Perkiraan waktu membaca artikel ini: 8 minutes

RUANGANGKASA.COM – Ada banyak sekali benda-benda di luar angkasa. Beberapa diantaranya telah diketemukan oleh para astronom, yang kemudian diberikanlah sebuah nama atau penyebutan untuk memudahkan dalam penelitian ataupun pengenalan. Salah satu benda langit atau luar angkasa yang menarik adalah komet.

Apa itu komet ?

Komet adalah benda langit yang sebagian besar terdiri atas es. Ia secara umum dijuluki sebagai “bola salju kotor”. Komet “bersalju” karena tersusun dari es, sedangkan “kotor” menunjukkan adanya banyak debu pada komet. Mayoritas komet di tata surya diketahui mengorbit Matahari, tetapi mereka diketahui umumnya menghuni wilayah terjauh di tata surya yang disebut Awan Oort.

Struktur komet dapat dibagi menjadi dua bagian: nukleus dan koma. Nukleus adalah bagian gelap dari komet yang terdiri dari inti berbatu dan memiliki debu, es, dan berbagai macam gas di permukaannya. Gas-gas ini paling sering termasuk karbon monoksida, amonia, karbon dioksida, dan metana. Bagian berkilau yang keluar dari nukleus disebut koma. Kata ini berasal dari bahasa Latin, Comida, yang berarti “berbulu”.

Nukleus komet sendiri pernah dipotret dari dekat oleh wahana antariksa Rosetta milik Agensi Antariksa Eropa. Kala itu, Rosetta mendekati komet 67P/Churyumov-Gerasimenko, dan inilah hasil foto terbaiknya terhadap komet 67P:

Mitologi Komet dan Kepercayaan Masyarakat

Telah terjadi beribu-ribu tahun lalu bahkan hingga kini, bahwa hadirnya komet di langit malam sering dikaitkan dengan tanda akan datangnya bencana atau sejenisnya. Shakespeare dalam karya Julius Caesar, mengaitkannya dengan pertanda kematian. Ada kasus unik, pengarang Mark Twain (Samuel Langhorne Clemens) yang terkenal dengan buku fiksinya Petualangan Huckleberry Finn dan Petualangan Tom Sawyer, dilahirkan saat komet Halley muncul (1835) dan wafat ketika komet tersebut kembali muncul (1910).

Pada tahun 1910, ketakutan pun melanda dunia. Di Amerika saat itu sampai memproduksi pil anti komet dan masker gas. Suasana ini memunculkan rumor di seluruh dunia bahwa tidak lama lagi akan terjadi perang besar. Nyatanya, 4 tahun berselang, terjadilah Perang Dunia I (28/07/1914 – 11/11/1918) yang dipicu dengan pembunuhan Franz Ferdinand, pewaris tahta Austria-Hongaria dan istrinya, oleh nasionalis Yugoslavia Gavrilo Princip di Sarajevo (28/06/1914). Dampaknya, tidak kurang 9 juta tentara dan 7 juta pertahanan sipil tewas di medan perang. Yang terlibat adalah negara Austria-Hongaria-Jerman-Kerajaan Ottoman-Bulgaria melawan Serbia-Rusia-Perancis-Kerajaan Inggris-Itali-Amerika Serikat-Jepang-Rumania. Selain seluruh wilayah Eropa, juga merambah Caucasus, Mesopotamia, Sinai, dll. Dimaklumi bila kemudian komet Halley kembali mengemuka menjadi perbincangan sebagai tanda bencana seperti rumor yang muncul tahun 1910.

gambar-komet
Pada karyanya Cometographia (1696), Hevelius melukis beragam wajah komet (Varia Cometarum Figurae). Ciri gambaran komet-nya dilukiskan laksana pedang berapi berkobar di langit malam yang lekat dengan pertanda perang dan kematian. Ref./Credit: Comets in Ancient Cultures by Noah Goldman – University of Maryland – Ball Aerospace & Technologies Corp – JPL/NASA

Di Indonesia pun mirip dan mungkin juga timbul masalah serupa saat kita runut komet yang teramati sejak masuk abad 20, yang antara lain tahun:

–       1910         1P/Halley (76 tahun),

–       1927         7P/Pons-Winnecke dan Skjellerup–Maristany (36.530 tahun),

–       1945         79P/du Toit–Hartley atau du Toit 2 (5,6 tahun),

–       1965         Ikeya-Seki (1.060 tahun),

–       1973/4      Kohoutek (35.600 tahun),

–       1996         Hyakutake (70.000 tahun),

–       1997/8      Hale-Bopp (2520 – 2533 tahun),

–       2004         P/2004 R3 (LINEAR-NEAT),

–       2013         C/2011 L4 (Panstarss) dan C/2012 S1 (ISON).

Ragam takhayul dari tahun ke tahun bermunculan silih berganti seolah tanpa istirahat, bahkan hingga menyisip ke isu kiamat. Tahun 1908, memang ada komet cemerlang (Komet Morehouse atau C/1908 R1), tetapi apakah terlihat dari Indonesia belum dapat dipastikan. Yang jelas tanggal 30 Juni 1908 di Rusia terjadi bencana saat pecahan komet Encke jatuh. Dikenal sebagai Peristiwa Tunguska, terjadi dekat Sungai Tunguska – Siberia. Cikal bakalnya adalah pecahan komet Encke yang meledak di ketinggian 10 km, menghancurkan lebih dari 2.000 km2 hutan di sana. Gema ledakan hingga radius 1.000 km dan Seismometer dari segala penjuru dunia mencatatnya. Kecerlangan ledakan bahkan mengalahkan terangnya Matahari. Adapun tahun 1927/8, untuk komet Skjellerup–Maristany di atas, identifikasi lainnya C/1927 X1, 1927 IX, dan 1927k, merupakan komet periode panjang dan sangat cemerlang. Sangat mudah dilihat dalam kisaran 1 bulan lebih. Secara terpisah ditemukan oleh astronom amatir John Francis Skjellerup (Australia, 28/11/1927) dan Edmundo Maristany (Argentina, 06/12/1927) dengan warna kuning terang yang ternyata karena kelimpahan sodium yang tinggi pada komet tersebut.

Bila hendak merunut kehadiran benda langit ini pada masa lalu memang sangat sulit. Sekedar contoh, astronom dari Tiongkok, Li Qibin, harus menelusuri lebih dari 150.000 manuskrip dan 10.000 prasasti yang relevan serta puluhan tinggalan lain selama 13 tahun hingga 1987 bersama 200 mahasiswanya untuk mencari dan mengidentifikasi benda langit yang di sana dikategorikan sebagai bintang Zhoubo, Bei, Jing atau sebutan lainnya. Tercampurnya beragam istilah cukup menyulitkan apakah benda yang tercatat benar komet atau lainnya seperti bintang, planet, nova, supernova, atau lainnya. Sama dengan di Indonesia, apapun benda langit umumnya disebut dengan awalan Lintang/Wintang. Hingga kini, dengan banyak lagi tambahan manuskrip, pekerjaan ini masih terus berlangsung dan jauh dari tuntas. Catatan tentang hadirnya komet yang terlihat di Tiongkok salah satunya telah ditulis pada manuskrip Book of Prince Huai Nan (komandan pasukan raja Wu saat melawan Zhou dari Yin tahun 1057 SM), yaitu komet Halley.

Contoh tinggalan lainnya seperti di Mesir. Dapat kita sebut semisal komet Hale-Bopp. Komet ini kemungkinan besar telah diamati bangsa Mesir kuno pada era Firaun Pepi I (2332-2283 SM)Pada piramidanya di Saqqara terdapat tulisan “nhh–star” yang dalam sandi hieroglyph maksudnya adalah pendamping firaun di langit dan “nhh” sendiri berarti rambut panjang. Sementara itu, kita tahu bahwa mitologi Mesir begitu kaya dengan aneka kisah terkait dewa dewinya.

Di benua Afrika, beberapa komet tampak pada tahun 1843, 1848, 1884. Budaya di benua ini dahulu kala tidak memiliki sistem kalender yang mapan. Biasanya sebuah kejadian ditandai dengan kejadian yang unik lainnya, semisal dikaitkan dengan peristiwa perang, kematian kepala suku, banjir, juga fenomena langit termasuk penampakan komet. Umumnya untuk hadirnya komet adalah sebagai pertanda akan datangnya bencana. Hal ini sebenarnya mirip di Indonesia. Pada gua di Fouriesberg – Afrika Selatan terdapat lukisan komet (menilik bentuknya, walau ada pemikiran – dapat jadi gambar bolide meteor) berusia kisaran 25.000 tahun. Selain itu juga dijumpai pada budaya Masai (Kenya, dekat Swahili) bahwa komet malah merupakan dewa yang sangat penting, lebih dari sekedar pertanda sesuatu. Dewa inilah yang memberi sesuatu yang optimistis. Ibarat hadirnya Batara Surya di India/Indonesia yang terkait Matahari.

Pandangan di atas juga terjadi di benua Amerika. Hadirnya komet menimbulkan ragam ketakutan, kekaguman, dan aneka takhayul. Sebagai pertanda bencana, murkanya Dewa, saatnya meramal kematian pangeran hingga jatuhnya kerajaan, dll. Mulai hilangnya budaya Aztec (wilayah Mexico) karena serbuan bangsa Spanyol (tertangkapnya Moctezuma – sang raja) juga kebetulan ditandai dengan munculnya the Great Comet tahun 1517.

Bagaimana mitos tentang komet di Indonesia?

Khususnya di pulau Jawa, kemunculan komet dikaitkan atau sebagai pertanda akan munculnya kerusuhan, kekacauan, perang, kelaparan, kematian, bencana, atau wabah penyakit (Maas/Tijdschrift, 1924, p.149). Namun, ada pula kisah atau mitos muasal keterjadian komet. Tinjau budaya di pulau Jawa bagian tengah (Solo dan Yogyakarta). Terdapat mitos tentang Lintang Kemukus pada manuscript Babad Tanah Jawi. Bila mendengar Babad Tanah Jawi, sebenarnya ada ragam versi. Misal “Serat Babad Segaluh dumugi Mataram” (Babad Galuh-Mataram) dan “Serat Babad Tanah Jawi”. Ada pula “Babad Pajajaran” yang isinya sebenarnya Babad Tanah Jawi yang mana didalamnya terdapat cerita tentang pertempuran antara Prabu Brawijaya (Jaka Suruh) dengan Siung/Tiung/Ciung Wanara hingga kisah penyerbuan Penembahan Senapati (Mataram) ke Pajang. Kisah Lintang Kemukus berasal dari yang pertama, yang isinya praktis sama dengan Serat Babad Tanah Jawi pada naskah Radyapustaka No.128, bab Teluh Condong-campur (ref: Sawitar 2015).

Dikisahkan akhirnya keris Kyai Condong-campur kalah dan kembali ke tempatnya. Walhasil Majapahit pun terbebas dari wabah penyakit. Prabu Brawijaya menitahkan ke Kyai Supagati dan Supradriya untuk menghancurkan keris itu karena pamornya telah rontok. Saat tiba keris dibakar hingga merah membara dan siap dihancurkan, keris mendadak melesat ke langit bersama teluh braja (braja: senjata) lalu menjelma menjadi Lintang Kemukus (bintang berasap, mêtu kukusé = keluar asapnya) yang disaksikan banyak orang. Sambil melesat itulah, terdengar keris tersebut bertutur ke Prabu Brawijaya tentang tugasnya untuk membuat keris berdapur nagasasra (keris Ki Jigja yang berukuran kecil terkenal dengan keris berdapur sabuk-inten).

Pada kisah lanjutannya, pemilik keris Kyai Sengkelat adalah Sunan Kalijaga, kakak ipar Ki Supa. Tentang keris nagasasra atau dapur sewu (Kyai Segara-wedang) dan sabuk-inten pernah dipopulerkan kisahnya oleh S.H. Mintardja (fiksi, berlatar sejarah transisi Majapahit – Pajang/Demak dengan tokoh Mahesa Jenar, murid Syeh Siti Jenar) yang Beliau juga terkenal dengan “Api di Bukit Menoreh”nya (transisi Pajang – Mataram; tokohnya Kyai Gringsing, Agung Sedayu, Glagah Putih, Pangeran Benawa, dan Panembahan Senopati).

Dalam naskah di atas, lenyapnya Kyai Condong-campur merupakan tanda runtuhnya Majapahit. Dalam sejarah Nusantara, saat Majapahit runtuh dikenal kata sandi atau sengkalan: sirna ilang kertaning bumi (0–0–4–1), yang artinya tahun 1400Ç (1478M). Yang sebenarnya cukup menarik, apakah saat itu memang ada Lintang Kemukus? Penulis belum dapat data pasti. Paling mungkin bahwa kejadian itu pada akhir masa Prabu Brawijaya V (1478) dan ada catatan bahwa komet tersebut dapat dilihat oleh banyak masyarakat saat itu. Artinya komet cukup lama terlihat dan cukup terang, maka kemungkinannya adalah komet 1471Y1 yang muncul sejak Desember 1471 hingga akhir Januari 1472 yang diprediksi memiliki magnitudo semu minus 3 (setelah melewati perihelion tanggal 1 Maret 1471). Adapun pada tahapan melesat ke langit, bercampur dahulu dengan têluh braja (diibaratkan layaknya Lintang Alihan yang mlêtik-mlêtik). Penulis mendapati ada 3 kandidat yang muncul berdekatan waktunya, yang dua lagi adalah 1P/Halley (1456, magnitude 0) dan 1468S1 (1468, magnitude 1 – 2). Pada referensi lain diperoleh kandidat lain, yaitu komet C/1491 B1 yang sempat mendekat Bumi hingga jarak 0,0094 AU pada tanggal 20 Februari 1491 – ketika peralihan era Brawijaya ke era putranya, Raden Patah telah purna (ref: Yeoman 2007, Astron. J. 89, 154-161IAU/Minor Planet Center).

Terlepas dari mitologi di atas, bahwa pada masa sekarang dengan peralatan yang semakin modern, penemuan demi penemuan akan benda ini semakin sering. Berdasarkan data Minor Planet Center – International Astronomical Union (MPC-IAU), pada tahun 2016 hingga tanggal 24 Mei telah ditemukan 16 buah komet mendekati Matahari. Total penemuan komet kini sudah mencapai 3887 buah yang telah diketahui dengan baik sifat orbitnya.

komet
Rentetan foto komet 252P/LINEAR saat mendekati Bumi dan pergeseran arah ekor. Dalam sejarah (lihat tabel 1), termasuk salah satu komet yang bergerak sangat dekat dengan Bumi, kisaran 5,4 juta km (±14 kali jarak Bumi – Bulan) yang terjadi 21 Maret 2016 lalu. Teleskop Angkasa Hubble pun juga mencatat sejarah karena meliput obyek terdekat kedua setelah Bulan. Sebenarnya sehari setelahnya, ada yang lebih dekat lagi, yaitu komet P/2016 BA14 (PANSTARRS) yang hanya berjarak 3,55 juta km. Namun, karakter orbitnya masih belum diketahui apakah periodik atau tidak. Credit: NASA, ESA, and J.-Y. Li (Planetary Science Institute).

Pemberian Nama Komet

Komet dinamai sesuai dengan tahun diketemukannya, lalu dibubuhi label abjad. Sebagai contoh: Komet 1940a, yang berarti komet pertama yang ditemukan tahun 1940. Jadi komet berikut yang ditemukan tahun itu diberi label b, c, dst. Setelah diketahui perihelion atau titik terdekatnya dengan Matahari, maka komet diberi label tahun dan angka romawi. Komet 1940a tersebut namanya diubah menjadi 1939VIII, yang artinya komet ke 8 yang mencapai perihelion pada tahun 1939. Namun, biasanya komet juga diberi nama sesuai penemunya seperti komet 1969IX disebut Tago-Sato-Kosaka. Atau lainnya seperti West, Hale-Bopp, Halley, dsb. Andai komet tersebut kerap muncul (periodik), maka namanya diberi tanda huruf P. Contoh: P/Halley, P/Encke, dll.

Orbit dan Tipe Komet

Komet pun (umumnya) mengedari Matahari. Bergerak dengan lintasan berbentuk ellips dengan eksentrisitas relatif besar (sangat lonjong). Apabila mengorbit dekat Matahari, komet akan memiliki kecepatan yang tinggi. Semakin jauh, semakin lambat.

Atas dasar periode edar dikenal komet periode pendek (<200 tahun). Misal komet Encke (3,3 tahun), Biela (6,7 tahun), Halley (76 tahun), Swift-Tuttle (134 tahuntahun 2126 diduga akan mendekati Bumi). Ada komet periode panjang seperti Hale-Bopp (2.380 tahun, terakhir terlihat 1995/6) dan Kohoutek (75.000 – 79.000 tahun, terakhir 1973). Ada lebih dari 500 komet periode panjang ditemukan.

Selain itu, ada pula komet yang terlalu dekat Matahari atau dapat jadi memang ditarik oleh Matahari sedemikian kuat akhirnya jatuh ke Matahari (biasanya sebelum jatuh sudah hancur lebur). Komet kategori ini digolongkan sebagai Kreutz Sun-grazers (berawal dari penelitian Heinrich Kreutz dari Jerman). Contohnya 1979XI (Howard-Koomen-Michels), LINEAR, atau (seri) SOHO. The Solar and Heliospheric Observatory atau SOHOmerupakan wahana antariksa peneliti Matahari hasil kerjasama antara the European Space Agency (ESA) dengan NASA. Mengorbit pada jarak 1,juta km dari Bumi. Sudah lebih dari 3000 komet ditemukan melalui wahana ini dan praktis semuanya hancur.

Selain itu, komet dikategorikan sifatnya berdasar kelimpahan unsur yang mudah menguap, sedemikian dikenal adanya tipe active (yang umum masyarakat lihat), dormant (secara internal aktif, namun tuna selimut gas), extinct (dapat dikatakan tidak lagi mempunyai unsur yang mudah menguap, artinya selubung atau coma tidak ada). Juga ada kecenderungan bahwa ekor debu akan semakin jelas pada komet periode pendek.

Struktur dan Unsur dari Komet

Matahari dengan gravitasinya yang dominan di Tata Surya sering menarik komet. Komet suatu saat ada yang mendekati planet, termasuk Bumi sehingga dapat terlihat. Yang menjadi masalahnya adalah bagaimana benda redup ini dapat terlihat dari langit Bumi?

Saat materi bongkah salju ini (sebut: inti komet; yang umumnya berukuran 0,5 – 40 km dengan unsur utama H2O, CO, CO2, CH4, NH3, HCN) mendekati Matahari, maka akan mengalami pemanasan sedemikian terjadilah proses penguapan dan sublimasi (padat menjadi gas). Terciptalah selimut gas–debu dipermukaannya dengan variasi unsur Na, O, CO, C, CN. Makin dekat Matahari, selimut ini (coma) makin tebal hingga dapat berdiameter beberapa juta km (termasuk selubung hidrogen). Unsur lainnya adalah formaldehyde (H2CO), methyl cyanide (CH3CN), hydrogen cyanide (HCN). Dalam kasus ini, artinya inti komet memiliki materi dengan unsur yang mudah menguap (volatile).

Terbentuknya Ekor Komet

Saat tekanan radiasi dan angin Matahari (Solar Wind) membuat sebagian komet terdorong menjauhi Matahari, maka akan terbentuk ekor komet. Arah ekor komet menjauhi Matahari dan terpanjang di perihelion (terdekat Matahari), dan biasanya ada 2 jenis ekor:

a.    Yang terbentuk dari partikel bermuatan (ion) dengan ciri sempit – lurus sampai ratusan juta km. Ekor ion ini lebih disebabkan oleh interaksinya dengan angin Matahari. Kadang disebut ekor tipe I.

b.    Ada ekor debu berciri lebar berkabut dan kadang melengkung akibat geraknya. Ekor debu dapat memanjang hingga puluhan juta km.

i. Untuk debu netral berukuran kecil, umumnya terdorong akibat adanya tekanan radiasi Matahari, bukan karena angin Matahari. Bentuknya agak sedikit melengkung.

ii. Sementara itu, untuk debu yang relatif besar bentuknya sangat lebar dan melengkung akibat gerak komet dan biasa terkait dengan fenomena hujan meteor. Partikel debu yang besar ini umumnya terbentuk saat komet sangat dekat Matahari.

Memang umumnya ada 3 ekor utama, namun ternyata ada komet yang punya lebih dari 3 dan bukan hanya menjauhi Matahari, tapi ada juga yang mengarah ke Matahari (antitail, walau ini lebih karena geometri visual)Contohnya komet Arend-Roland (1956) dan Hale-Bopp.

Kecepatan edar komet dapat mencapai 400.000 km/jam. Wahana peneliti komet antara lain ICE (1983), Vega 1 dan 2 (‘84), Giotto (‘85/6), Suisei (’86)Sakigake (‘96), Stardust (1999–2004)Deep Space 1 (2001), Deep Impact (2004), Rosseta (2004).

Nah, bagaimana sudah paham kan tentang komet itu apa? Meski hingga kini komet masih dianggap oleh beberapa masyarakat sebagai pertanda malapetaka, namun komet juga menjadi benda langit yang menarik untuk diteliti dan diamati oleh para astronom.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini