Perkiraan waktu membaca artikel ini: 3 minutes

RUANGANGKASA.COM – Era modern astronomi lebih banyak berkutat perihal penelitian tentang extrasolar planet, dimana manusia ingin mencari “tempat tinggal” yang baru dan peluncuran teleskop luar angkasa yang akan yang meneliti dan mencari berbagai benda-benda luar angkasa di alam semesta ini. Semua itu hebat, semua itu canggih, rumit dan mengagumkan. Akan tetapi, 2000 tahun yang lalu ada pekerjaan lain yang juga telah dilakukan oleh nenek moyang kita yang tak kalah rumit dari sebuah teleskop Hubble.

Arkeoastronomi adalah sebuah ilmu yang mempelajari astronomi di masa lampau. Secara garis besar, bidang arkeoastronomi dibagi menjadi 3 bagian, yaitu astroarkeologi, sejarah astronomi dan etnoastronomi. Astroarkeologi mempelajari astronomi dalam hubungannya dengan arsitektur bangunan kuno. Sejarah astronomi mempelajari perjalanan sejarah ilmu astronomi melalui sumber tertulis. Etnoastronomi mempelajari kaitan antara astronomi dan budaya masyarakat di masa lampau. Bila diringkas, arkeoastronomi merupakan bidang ilmu irisan antara astronomi, arkeologi dan antropologi.

Salah satu karya astroarkeologi di dunia adalah Stonehenge. Monumen batu terbesar di dunia ini diperkirakan mulai disusun pada tahun 3000 sebelum masehi. Stonehenge terletak 150 km di sebelah barat kota London dan dikelilingi oleh dataran hijau Salisbury. Dengan berat masing – masing batu sekitar 50 ton dan tinggi sekitar 3 meter, batu – batuan ini disusun membentuk lingkaran berlapis.

Mempelajari Arkeoastronomi, Sebuah Peradaban Manusia
Stonehenge merupakan situs warisan dunia Unesco. Credit Wikepedia.org

Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Hawkins seorang astronom Inggris pada tahun 1963 menyebutkan bahwa posisi batu – batu stonehenge mempunyai korelasi dengan benda – benda langit pada posisi istimewanya. Hal ini berarti bahwa hanya dengan mengamati posisi benda langit dalam stonehenge pada saat tertentu, kita dapat menentukan posisi benda langit tersebut pada saat yang lain. Selain itu, stonehenge dan dua buah lingkaran kecil diluarnya berfungsi sebagai sebuah alat penghitung gerhana. Dengan menandai posisi bulan, matahari dan titik node, lalu menghitungnya sesuai jumlah lubang lingkaran yang ada, maka dapat ditentukan kapan terjadi gerhana. Seperti mekanisme sebuah software astronomi bukan? Perlu diingat bahwa stonehenge dibangun sekitar 3000 tahun sebelum masehi yaitu 4900 tahun sebelum komputer pertama kali dibuat. Sungguh sebuah mahakarya yang agung dari peradaban manusia. Dengan keterbatasan teknologi yang ada pada masa itu, berbekal otak dan pengamatan terhadap benda langit, para leluhur pendiri stonehenge mewujudkan langit berbentuk 3 dimensi kedalam mekanisme susunan batu.

Di Indonesia Candi Borobudur merupakan salah satu keajaiban dunia yang juga masih berhubungan dengan astronomi. Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah merupakan kuil umat Buddha terbesar di dunia. Dibuat pada masa pemerintahan Syailendra, desain dari candi ini mengikuti perpaduan gaya arsitektur Buddha dan Jawa yang mana memadukan konsep aliran kepercayaan asli masyarakat Jawa Kuno dan ajaran Buddha terkait tujuan akhir Nibbana. Candi ini memiliki sembilan tingkatan, enam tingkatan berbentuk bujur sangkar dan tiga lainnya berbentuk lingkaran, serta pada bagian paling atasnya terisi kubah.

Mempelajari Arkeoastronomi, Sebuah Peradaban Manusia
Candi Borobudur merupakan situs warisan dunia Unesco. Credit wikipedia.org

Setelah dilakukan penelitian, orientasi utama dari bentuk Candi Borobudur memiliki keterkaitan dengan pergerakan dari benda-benda langit. Letak Candi Borobudur yang berada pada koordinat 7.6079° LS dan 110.2038°BT mengakibatkan setiap setahun dua kali, Candi Borobudur mengalami fenomena unik terkait siklus tahunan Matahari. Matahari yang terbit pada tanggal 25 atau 26 April (salah satunya), dan 10 atau 11 Agustus (salah satunya), setelah diamati dan melalui perhitungan komputer, berada segaris dengan Candi Borobudur dan Gunung Merapi. Selain dugaan keterkaitan dengan pergerakan matahari, terdapat juga hipotesis yang mengklaim bahwa proporsi 4:6:9 dan jarak antar stupa pada struktur Candi Borobudur berkaitan dengan dengan suatu sistem penanggalan kuno.

Masih banyak peninggalan-peninggalan peradaban manusia jaman dahulu yang merupakan bagian dari Karya – karya arkeoastronomi, diantaranya ada Piramid Giza di Mesir, kuil Angkor Wat di Kamboja, Star Tower di Korea, Candi Bubaniswar di India, Monumen Tanjung Kumukahi di Hawai, dan masih banyak di tempat yang lain. Bangunan – bangunan ini dibangun pada masa lampau dan di masa kini menunjukkan kepada kita tentang keagungan peradaban manusia di jaman itu. Lantas bagaimana dengan Indonesia dengan beribu ragam budayanya? Adakah bangunan astroarkeologi yang kita miliki selain candi Borobudur? Para astronom dan arkeolog kita harus bekerja keras mencari jawaban dari pertanyaan ini.

 

 

*sumber langit selatan – Kelley, David. H; “Exploring Ancient Skies”; 1995; Springer, wikipedia.org

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini