Perkiraan waktu membaca artikel ini: 3 minutes

RUANGANGKASA.COM – Pernakah Anda mengamati hujan meteor di langit saat malam hari ? Jika Anda berhasil melihat hujan meteor di langit bisa jadi merupakan pengalaman yang seru dan menarik. Namun jika belum pernah sama sekali melihat meteor, kali ini ruangangkasa.com akan mengulas tentang cara melihat hujan meteor di langit malam.

Sebelum kita membahas lebih lanjut, sudah tahukah Anda apa itu meteor? Jangan-jangan Anda masih menganggap kalau meteor dan komet itu sama?
Meteor merupakan objek batuan kecil dari luar angkasa yang masuk ke atmosfer Bumi kita. Ketika masuk ke atmosfer, pergerakan cepat batuan kecil itu ditambah gesekan dengan atmosfer akan membuat ia terbakar dan memiliki ekor. Nah, dari permukaan Bumi, kita melihatnya sebagai meteor. Asal muasal batuan kecil itu sendiri adalah dari komet. Komet merupakan objek yang sebagian besar terdiri atas es. Ketika mendekati Matahari, komet akan menguap, membentuk ekor. Penguapan itu bikin material dari permukaannya tertinggal di sepanjang jalur orbit yang ia lewati dalam mengitari Matahari. Nah, pada waktu-waktu tertentu, Bumi kita dapat melintasi bekas jalur orbit komet ini.
Meteor bergerak sangat cepat di langit, bahkan kecepatannya bisa mencapai 60 kilometer per detik. Dengan begitu, kenampakannya di langit hanya 1-2 detik saja, lalu hilang karena sudah terbakar habis di atmosfer sebelum bisa mencapai permukaan Bumi. Kemunculan meteor di langit pun tidak menentu dan bersifat lokal. Dengan kata lain, meteor merupakan fenomena yang sporadis, dan jika kamu melihat meteor di langit daerahmu, langit daerah lain belum tentu juga melihatnya.
hujan-meteor-orinid
Hujan Meteor Orionid. Kredit photo by Brocken Inaglory
Namun, ada waktu-waktu terbaik untuk melihat meteor, yakni saat fenomena hujan meteor sedang berlangsung. Tidak perlu takut, hujan meteor hanya istilah karena meteor-meteor yang muncul lebih banyak daripada malam lainnya. Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi bekas jalur sebuah komet, sehingga material dari komet yang telah menguap itu akan banyak yang tertarik oleh gravitasi Bumi sehingga masuk lah mereka ke atmosfer sebagai meteor.
Tiap tahunnya ada fenomena hujan meteor yang terjadi pada tanggal-tanggal tertentu, diantaranya yang dapat diamati dengan mudah karena intensitasnya tinggi:
  • Hujan meteor Quadrantid, puncaknya 3 Januari, berasal dari asteroid 2003 EH
  • Hujan meteor Lyrid, puncaknya 21 April, berasal dari komet C/1861 G1 (Thatcher)
  • Hujan meteor eta Akuarid, puncaknya 4 Mei, berasal dari komet 1P/Halley
  • Hujan meteor delta Akuarid Selatan, puncaknya 28 Juli, berasal dari komet 96P/Machholz
  • Hujan meteor Perseid, puncaknya 11 Agustus, berasal dari komet 109P/Swift-Tuttle
  • Hujan meteor Orionid, puncaknya 20 Oktober, berasal dari komet 1P/Halley
  • Hujan meteor Taurid Selatan, puncaknya 2 November, berasal dari komet 2P/Encke
  • Hujan meteor Taurid Utara, puncaknya 11 November, berasal dari komet 2P/Encke
  • Hujan meteor Leonid, puncaknya 16 November, berasal dari 55P/Tempel-Tuttle
  • Hujan meteor Geminid, puncaknya 13 Desember, berasal dari asteroid 3200 Phaethon
  • Hujan meteor Ursid, puncaknya 21 Desember, berasal dari komet 8P/Tuttle
Bagaimana cara melihat hujan meteor di atas? Kalau diperhatikan, setiap hujan meteor memiliki nama. Nah, nama-nama tersebut berasal dari titik radian di mana mereka muncul. Sebagai contoh misalnya hujan meteor Orionid yang akan terjadi pada 20 Oktober mendatang, meteor-meteor akan muncul dari arah rasi bintang Orion.
Jika Anda tidak tahu di mana arah rasi bintang, silakan bisa memanfaatkan aplikasi peta langit seperti Stellarium, Star Chart, Sky Map yang bisa Anda unduh gratis untuk smartphone yang Anda miliki.
Mengamati hujan meteor pun butuh kondisi lokasi pengamatan yang mendukung, yang mana dalam hal ini adalah lokasi yang gelap gulita tanpa polusi cahaya. Dengan kata lain, Anda perlu berada jauh dari kota besar pada malam hari untuk melihat hujan meteor. Karena kalau kamu mengamatinya di dalam kota besar atau dekat kota besar, meteor-meteor tidak akan terlihat karena polusi cahaya.
Karena pergerakan meteor yang begitu cepat di langit, jadi untuk mengamatinya tidak memerlukan teleskop. Pengamatan hujan meteor bahkan hanya perlu lokasi gelap gulita dan medan pandang ke arah langit yang luas. Oh ya, pada tanggal 28 September 2021 nanti juga akan terjadi fenomena hujan meteor Sextantid, meski bukan hujan metor dengan intensitas yang sangat tinggi seperti dalam daftar hujan meteor diatas, tapi juga menarik bila diamati. Hujan meteor Sextantid akan muncul dari konstelasi atau rasi bintang Sextans, yakni diantara konstelasi Draco dan Leo. Hujan meteor ini mulai aktif sejak tanggal 9 September lalu hingga 9 Oktober mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 27 September 2021 pukul 19.00 WIB, 20.00 WITA , 21.00 WIT. Sehingga, fenomena langit dari hujan meteor ini baru dapat disaksikan keesokan harinya (28/9/2021) sejak pukul 03.30 hingga 05.00 waktu setempat dari arah Timur, dengan intensitas 2-5 meteor per jam.
Nah, itulah tadi cara melihat meteor di langit malam. Meteor merupakan objek alam semesta yang tidak membahayakan Bumi dan tidak berhubungan dengan hal-hal gaib. Selamat mengamati hujan meteor !

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini