Perkiraan waktu membaca artikel ini: 7 minutes

RUANGANGKASA.COM – Perkembangan ilmu pengetahuan dan berbagai penemuan yang telah ditemukan oleh beberapa ahli di masa lalu memberikan banyak manfaat bagi peradaban manusia saat ini, tidak terkecuali dalam bidang ilmu astronomi. Astronomi merupakan salah satu ilmu tertua yang pernah diteliti keberadaannya. Sejarah mencatat jika astronomi telah dipelajari sejak Zaman Babilonia, Mesir,China bahkan setelah runtuhnya kebudayaan Yunani Kuno dan Romawi. Hingga akhirnya perkembangan astronomi berpindah pada bangsa Arab. Oleh bangsa Arab astronomi berkembang sangat pesat terutama saat masa kerajaan Islam sekiter 8 hingga 15 Masehi.

Tidak heran jika banyak ilmuwan – ilmuwan Islam yang kemudian muncul dan mempelajari ilmu astronomi. Berikut ini ruangangkasa.com telah merangkum 9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi yang mempunyai peran penting dalam perkembangan ilmu astronomi di dunia. Siapa sajakah astronom tersebut, berikut daftarnya:

1. Al – Farghani (805 – 880 M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
Abū al-ʿAbbās Aḥmad ibn Muḥammad ibn Kathīr al-Farghānī (Alfraganus)

Al – Farghani atau lebih dikenal dengan nama Alfraganus di dunia barat merupakan seorang astronom Muslim yang berasal dari Persia. Al – Farghani adalah astronom yang sangat terkenal di abad ke – 9 dan juga seorang perintis ilmu astronomi modern. Pada tahun 829, Al – Farghani melakukan penelitian yang didirikan oleh seorang khalifah al-Ma’mun yang terdapat di Baghdad. Dengan peralatan yang mendukung dan modren saat itu Al – Farghani berusaha untuk mengetahui diameter bumi, jarak, dan juga diameter dari beberapa planet lainnya.

Tidak heran jika rasa keingintahuan yang dimilikinya, ia bergabung dalam projek pengukuran dari derajat garis lintang bumi. Selain itu, dia juga berhasil menjabarkan jarak serta diameter dari beberapa planet yang merupakan suatu pencapaian luar biasa saat itu. Al – Farghani menulis seluruh hasil pengamatan dan penelitiannya di dalam sebuah buku yang berjudul “Harakat as-Samawiyya wa Jawami Ilm an-Nujum” atau Asas – Asas Ilmu Bintang, buku tersebut menjadi salah satu buku yang berpengaruh bagi dunia astronomi di Eropa. Tidak heran jika buku tersebut sudah diterjemahkan menjadi beberapa bahasa salah satunya bahasa Inggris dan berubah judul menjadi Elements of Astronomy.

Kisah selengkapnya tentang Al-Farghani dapat dibaca di Al-Farghani Astronom Muslim Penentu Ukuran Planet.

2. Al – Battani (858 – 929 M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan Abu Abdullah. Credit wikipedia.org

Al – Battani memiliki nama lain yaitu Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan Abu Abdullah atau lebih dikenal sebagai Bapak Trigonometri ini mempunyai banya nama latin yaitu Albategnius, Albategni dan Albatenius. Selain sebagai seorang ahli di bidang matematika, Al – Battani juga merupakan astronom Muslim terbesar di Arab.

Salah satu penemuan terbesarnya selain tabel cotangen yaitu penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Sebelumnya perhitungan tersebut pernah dilakukan oleh Ptolemy dengan hasil tahun matahari yaitu 365 hari, 5 jam, 55 menit dan 12 detik. Selain memperbaiki hasil perhitungan dan menyusun tabel baru matahari dan bulan milik Ptolemy, Al – Battani juga menemukan arah matahari mengalami perubahan.

Tidak hanya itu saja, Al – Battani juga membuat sebuah kitab yang sangat populer yaitu al – Zih al-Sabi dan kitab tersebut menjadi rujukan bagi para ahli astronomi di dunia Barat atau Eropa. Banyak ahli astronomi dari Eropa yang berpedoman pada kitab tersebut, sebut saja Copernicus, Regiomantanus, Kepler, hingga Peubach. Bahkan Copernicus mengaku berhutang budi pada Al – Battani dan hal tersebut tercatat di dalam bukunya yang berjudul “De Revoltionibus Orbium Clestium”.

Kisah selengkapnya tentang Al – Battani dapat dibaca di Al-Battani, Astronom Muslim Dibalik Penentu Jumlah Hari dalam Setahun.

3. Al – Sufi (903 – 986 M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
Abd ar-Rahman bin Umar al-Sufi Abul Husayn. Credit alchetron.com

Seorang astronom yang memiliki nama lengkap Abd ar-Rahman bin Umar al-Sufi Abul Husayn. Al – Sufi merupakan penerjemah dari karya – karya astronom Yunani yaitu Almagest yang dibuat oleh Ptolemaios dan juga melakukan koreksi terhadap daftar rasi bintang milik Ptolemy dengan menghubungkan nama – nama bintang berdasarkan pada penelitian Yunani dan bangsa Arab.

Hasil karya terbesar miliknya berupa Kitab dengan judul al-Kawakib ats – Tsabit al – Musawwar yang berisi katalog bintang hasil dari pengamatannya sendiri. Kitab tersebut juga merupakan atlas bintang pertama yang membahas mengenai nebula yang terdapat pada  Galaksi Andromeda. Selain itu, Al – Sufi juga melakukan pengamatan dan juga menggambarkan bintang – bintang, posisi atau letaknya, besar hingga warnanya.

4. Ibnu Haitham (965 – 1039 M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
Ibnu Haitham atau Alhazen. Foto: Wikimedia Commons

Ibnu Haitham melakukan percobaan dan penelitian mengenai cahaya dan hasilnya menjadi inspirasi bagi ilmuwan lain seperti Bacon, Boger dan Kepler untuk membuat mikroskop dan teleskop. Tidak dipungkiri jika Ibnu Haitham adalah orang pertama yang menyelidiki mengenai cahaya dan hasil penelitiannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Light and On Twilight Phenomena”.

Di dalam penelitiannya banyak membahas tentang senja serta lingkaran cahaya yang terdapat di sekitar bulan dan matahari termasuk bayang – bayang dan gerhana. Salah satu penelitiannya yaitu mengenai cahaya fajar dimulai saat matahari berada di garis 19 derajat sebelah timur.

Sedangkan warna merah pada senja akan menghilang jika matahari ada di garis 19 derajat ufuk barat. Tidak hanya itu saja, Ibnu Haitham melakukan percobaan pada kaca yang dibakar dan dari sanalah muncul teori lensa pembesar.

 

5. Ibnu Yunus (950 – 1009 M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
Abu Al-Hasan Ali abi Said Abd al-Rahman ibnu Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi al-Misri. Credit wendiferdintania.wordpress.com

Ibnu Yunus mempunyai nama lengkap Abu Al-Hasan Ali abi Said Abd al-Rahman ibnu Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi al-Misri merupakan seorang astronom yang lahir di Mesir. Ia membuat sebuah kitab yang berjudul Ghayat Al-Intifa yang di dalamnya berisi tabel bola astronomi yang digunakan untuk mengatur waktu Kairo sampai dengan abad ke-19 M.

Menurut sejarah Ibnu Yunus merupakan orang pertama yang menggunakan bandul sebagai alat ukur waktu di abad ke-10 dengan akurat dan tepat waktu. Ia juga dapat menjelaskan mengenai 40 planet, menyaksikan 30 gerhana bulan, serta menjelaskan tentang konjungsi planet Venus dan Merkurius pada rasi bintang Gemini. Tidak hanya itu saja, Ibnu Yunus juga tabel a(h) saat terjadi equinox di mana h = 1, 2, …, 60 derajat. Untuk mengenang jasanya, nama Ibnu Yunus diberikan pada sebuah kawah yang terdapat di permukaan bulan.

6. Al – Biruni (973 – 1050 M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
ABU RAYHON MUHAMAD IBN AHMAD AL BIRUNI Credit eastroute.com

Astronom satu ini cukup terkenal di masa Renaissance dan dia juga yang mengungkapkan bahwa bumi berputar pada porosnya. Di zaman tersebut pulalah, Al – Biruni memperkirakan ukuran dari Planet Bumi serta memperbaiki arah dari kota Mekkah berdasarkan perhitungan saintik dari segala arah di berbagai tempat.

Al – Biruni telah melakukan berbagai macam perhitungan terkait dengan astronomi seperti menghitung garis lintang Kath, Khawarazam dengan metode altitude maksimal matahari, membuat proyeksi peta kartografi termasuk proyeksi belahan bumi di bidang datar, dan penelitian mengenai radius Bumi pada 6.339,6 km.

 

7. Ibnu Al Shatir (1304 – 1375 M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
Ilustrasi Ibnu al-Shatir

Ibnu Al – Shatir merupakan orang yang melakukan perombakan dari keseluruhan teori Geosentris yang dibuat oleh Claudius Ptolemaeus atau Ptolemy (90 SM – 168 SM). Jika dilihat secara matematis, Ibnu Al-Shatir mengenalkan epicycle rumit atau sistem lingkaran dalam lingkaran dengan menjelaskan gerak Merkurius saat Bumi menjadi pusat alam semesta dan Merkurius bergerak mengitari Bumi. Ibnu Al-Shatir menemukan jam astrolabe pertama di abad ke – 14 M.

Jam astrolabe merupakan salah satu instrumen astronomi yang berfungsi sebagai penentu lokasi dan memperkirakan posisi matahari, bulan, planet serta bintang, menentukan letak bujur dan letak lintang, survei dan juga triangulasi. Selain jam astrolabe, Ibnu Al-Shatir juga menemukan jam matahari dan merupakan jam dengan polar axis sundial paling tua yang masih ada hingga saat ini. Kompas juga menjadi barang temuannya dengan menganut dasar jam matahari dan kompas magnetis di awal abad ke 14 M.

8. Al-Zarqali (1029-1087M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
Al-Zarqali ilustrasi credit artsandculture.google.com

Ilmuwan Barat mengenalnya dengan panggilan Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan pada perangko di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Al-Zalqali menemukan fakta bahawa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular, Al-Zarqali juga mampu mengoreksi data geografis yang dibuat Ptolemeus. Secara khusus, dia mengoreksi panjang Laut Mediterania. Al-Zarqali juga mampu menemukan sejumlah fakta penting terkait rahasia langit, seperti planet, bintang, bulan dan matahari. Beliau telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha. Astrolabe itu tak bergantung pada garis lintang pengamatnya dan bisa digunakan di manapun di seluruh dunia.

9. Jabir Ibn Aflah (1145M)

9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi
Ilustrasi Jabir Ibn Aflah

Jabir Ibn Aflah atau Geber adalah seorang ahli matematik Islam berbangsa Spanyol. Namun, Jabir juga memberi kontribusi dalam pengembangan ilmu astronomi. Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Jabir bin Aflah adalah astronom Muslim pertama di Eropa yang membangun observatorium Giralda. Observatorium ini terletak di kota kelahirannya, Serville. Adapun karya astronominya antara lain buku berjudul The Book of Astronomy. Salinan buku ini sampai sekarang masih tersimpan di Berlin. Dalam buku tersebut, Jabir dengan tajam mengkritik beberapa pandangan dan pikiran astronom Ptolemaneus, terutama pendapat yang menegaskan bahwa planet-planet yang paling dekat dengan matahari–merkurius dan venus–tidak mempunyai nilai parallax, yaitu perubahan kedudukan suatu benda karena perpindahan tempat pengamatan. Jabir sendiri memberi nilai parallax sekitar 3 derajat untuk matahari. Juga menyatakan bahwa planet-planet lebih dekat dengan bumi daripada dengan matahari.

Begitulah tadi 9 Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi yang telah banyak memberi manfaat dan perubahan bagi peradaban manusia saat ini, terutama dalam bidang astronomi. Pada artikel selanjutnya, ruangangkasa.com akan membahas satu persatu tokoh-tokoh tersebut dalam seri artikel Ilmuwan Islam dalam Bidang Astronomi, jadi tetap ikuti update terbaru dari ruangangkasa.com ya…

*Diolah dari berbagai sumber

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini