Perkiraan waktu membaca artikel ini: 3 minutes

RUANGANGKASA.COM – Pratiwi Sudarmono sedikit lelah, setelah seharian mengajar di kampus. Di benaknya, ia hanya ingin cepat-cepat pulang, istirahat, sambil mengisi tenaga untuk hari esok. Dalam perjalanan pulang, Pratiwi mampir ke tempat loper koran langganannya. Tujuannya sederhana. Ia ingin membaca berita dulu sebelum tiba di rumah.

Namun, alangkah terkejutnya Pratiwi Sudarmono ketika dia membaca namanya sendiri dalam sebuah berita. Pratiwi terpilih sebagai wakil Indonesia dalam misi Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (AS) atau NASA ke luar angkasa dengan pesawat ulang-alik Columbia di tahun 1986.

“Antara percaya dan enggak percaya juga. Saya tahu nilainya bagus ketika seleksi, tapi enggak tahu kalau akan terpilih,” kata Pratiwi menceritakan kisahnya 36 tahun lalu, dikutip dari Liputan6.

Pratiwi sangat bahagia, karena lolos seleksi. Baginya, menjadi astronot bak impian yang jadi kenyataan. Dari 207 orang yang diseleksi, Pratiwi yang merupakan pendaftar terakhir ternyata berhasil mendapatkan “tiket emas” tersebut. Wanita yang kini merupakan profesor mikrobiologi di Universitas Indonesia tersebut menceritakan, proses seleksi menjadi astronot sangat berat. Semua aspek dari fisik hingga psikologi diperiksa.

Mulai dari kesehatan umum, kecerdasan umum, kemampuan bahasa Inggris, kemampuan berada dalam tekanan, fisiologi penerbangan, gravitasi, latihan keseimbangan, bernapas dengan tipisnya udara hingga mempelajari sistem kerja pesawat ulang-alik.

“Seleksinya itu sampai satu tahun. Tidak hanya di Indonesia, kami dibawa ke Houston (AS) juga,” ungkapnya.

pratiwi_taufiq_akbar
Astronot Indonesia, Taufiq Akbar (kiri) dan Pratiwi Sudarmono (kanan) (Foto: Twitter/@aisoffice)

Pratiwi saat itu terpilih dalam misi NASA bertajuk STS-61-H. Misi yang bertujuan untuk membawa tiga satelit komersial, yaitu Skynet 4A, Westar 6S dan Palapa B3. Yang terakhir, merupakan satelit milik Indonesia. Pemerintah Indonesia merasa perlu melibatkan astronot sendiri dalam misi tersebut dan terpilihlah Pratiwi. Ia akan berperan sebagai Payload Specialist (Spesialis Muatan). Selain Pratiwi, ditunjuk pula Taufik Akbar, seorang insinyur telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung. Taufik akan mendampingi Pratiwi sekaligus menjadi awak cadangan.

Namun sayangnya, mimpi Pratiwi seketika buyar. Hal ini terjadi akibat terjadinya insiden beberapa bulan sebelum Satelit Palapa B-3 diberangkatkan. Tepatnya pada 28 Januari 1986, pesawat ulang-alik Challenger milik AS yang hendak menunaikan misi lain, yakni STS-51-L, meledak di udara hanya 73 detik setelah diluncurkan pada ketinggian 15 kilometer. Tujuh orang kru menjadi korban.

“Ketika Challenger meledak, saya nonton lewat televisi di Indonesia. Sedih sekali karena tujuh orang itu teman saya. Setiap hari interaksi dan latihan bersama mereka,” ucap Pratiwi.

Insiden yang menimpa Challenger ini membuat NASA membatalkan beberapa penerbangan ke luar angkasa selanjutnya, termasuk agenda penerbangan Columbia yang sedianya bakal membawa Pratiwi ke luar angkasa pada 24 Juni 1986. Meski gagal terbang pada 1986, Pratiwi bertahan di Amerika dan menjalani latihan seperti biasa. Sebab, saat itu tidak ada kejelasan dari pihak NASA.

“Saya juga ikut bekerja di Space Biology Lab di komplek NASA. Pada 1997, baru misinya benar-benar selesai dan Pak Habibie minta berhenti dulu karena krisis moneter,” ucapnya.

Pulang dari Amerika, Pratiwi balik ke kampus. Ia kembali menekuni aktivitasnya sebagai ilmuwan serta pengajar hingga saat ini.

Menjadi Sebuah Inspirasi

Kendati batal ke luar angkasa, pencapaian Pratiwi ternyata menjadi inspirasi bagi anak-anak muda di tanah air kala itu. Menurut cerita Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaludin, banyak yang bercita-cita menjadi astronot setelah mengetahui kisah Pratiwi.

Hal ini diketahui Thomas, karena pada tahun 1980-an ke atas, yang mendaftar jurusan astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) meningkat luar biasa.

Bahkan, pada waktu itu passing grade untuk masuk astronomi ITB jadi salah satu tertinggi, karena peminat yang banyak, tapi jumlah yang diterimanya sedikit. “Ternyata setelah mereka masuk, itu banyak yang ketika diwawancara, itu banyak juga yang salah mengira. Dikiranya jurusan astronomi ITB itu nantinya untuk menjadi astronot,” ucap Thomas Djamaludin, dikutip dari Liputan6.

Belum Ada Program ke Luar Angaksa

Hingga saat ini, program untuk memberangkatkan astronot Indonesia ke luar angkasa belumlah ada. Menurut Thomas, program keantariksaan Indonesia merujuk kepada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, dan Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2016-2040. Dalam Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2016-2040 itu terdapat lima kegiatan mencakup sains antariksa, penginderaan jauh, pengembangan teknologi antariksa yaitu roket, satelit, dan aeronotika. Lalu, ada kegiatan peluncuran. Dan yang kelima yakni kegiatan komersialisasi keantariksaan.

Thomas menyatakan, LAPAN telah melaksanakan kegiatan pertama hingga ketiga, sedangkan kegiatan keempat dan kelima tengah dipersiapkan. Belakangan juga ada wacana untuk pengiriman astronot, meski sebenarnya dari segi program keantariksaan atau Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan, hal itu belum ada. Prioritas sekarang adalah pengembangan teknologi dan pemanfaatan IPTEK penerbangan dan antariksa.

“Karena masalah skala prioritas. Program keantariksaan kan mahal ya, sehingga pengiriman astronot itu belum dimasukkan dalam perencanaan,” tuturnya.

Pada Januari 2020, beredar kabar bahwa lembaga antariksa Rusia, Roscosmos, mengajak kerjasama untuk memberangkatkan astronot dari Indonesia. Namun, Thomas menyebut, hingga hari ini LAPAN belum pernah menerima atau ditawari pembicaraan langsung untuk program kosmonot oleh Rusia.

Kerjasama LAPAN dengan Roscosmos sejauh ini hanya terkait pengembangan sains dan pemanfaatan antariksa. Masih akan sangat lama bagi astronot dari Indonesia yang bisa berangkat ke luar angkasa. Thomas menjelaskan, hal itu karena memang belum ada programnya. Sebab, anggaran untuk memberangkatkan astronot ke luar angkasa juga sangat mahal. Namun meski demikian, semoga dalam beberap dekade kedepan akan ada salah satu putra-putri terbaik Indonesia yang akan pergi ke luar angkasa.

 

Sumber: Liputan6, Wikipedia

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini