Perkiraan waktu membaca artikel ini: 3 minutes

RUANGANGKASA.COM – Bumi saat ini sedang didekati oleh komet ATLAS atau sang pengelana dari tepian Tata Surya. Begitu jauh rumahnya sedemikian hanya dapat sekedar lewat sekali setiap kisaran 5500 tahun sekali. Sang pengelana ini tidak lain adalah sebuah komet yang diberi indeks C/2019 Y4, yang juga populer disebut komet ATLAS. Komet ini merupakan komet yang ditemukan oleh system pengamat ATLAS (Asteroid Terrestrial impact Last Alert System). Peranti ini memiliki misi yang digunakan untuk peranti atau sistem peringatan dini yang dikembangkan oleh badan antariksa Amerika Serikat, yaitu NASA. Namun, pengoperasiannya diberikan kepada pihak Departemen Astronomi Universitas Hawaii.

ATLAS sebenarnya terdiri dari 2 teleskop yang bertugas mengamati objek kecil dekat Bumi yang berpotensi mendekati atau bahkan menabrak Bumi. Setiap malam kedua teleskop tersebut secara otomatis memindai seluruh wilayah langit beberapa kali untuk mencari objek yang bergerak di sekitar orbit Bumi. Hingga saat ini, ATLAS telah menemukan 430 asteroid dekat Bumi (Near-Earth Asteroids), 44 asteroid yang berpotensi berbahaya (PHA), 5464 supernova, dan 37 komet. Tiba saatnya, pada tanggal 28 Desember 2019 menemukan sebuah objek yang kemudian diberi indeks nomor C/2019 Y4 yang setelah melalui penelusuran dan penelitian lanjut diketahui sebagai sebuah komet.

 

Munculnya Komet ATLAS, Sang Pengelana dari Tepian Tata Surya
Peta lintasan Komet C/2019 Y4 (Credit: JPL Horizons/Tom Ruen)

Komet ATLAS pertama diketahui oleh Larry Danneau (Tim T08 ATLAS-MLO – Mauna Loa – Hawaii terdiri dari observer L. Denneau, J. Tonry, A. Heinze, H., Weiland, H. Flewelling dan bagian perhitungannya adalah L. Denneau, J. Tonry, A. Heinze, H., Weiland, H., Flewelling, B. Stalder, A. Fitzsimmons, J. Robinson, dan N. Erasmus). Kecerlangan saat ditemukan kisaran magnitudo 19,6 di arah rasi bintang Ursa Mayor (Beruang Besar). Lanjutan pengamatan pada tanggal 31 Desember 2019 dilakukan oleh L. Buzzi di Observatorium Schiparelli. Sebagai konfirmasi, dilanjutkan antara lain oleh: H. Sato (31/12/2019 dan 4/1/2020), K. Sarneczky (1/1/2020), B. Lutkenhoener dan D. J. Tholen (1/1/2020), M. Jaeger (3/1/2020), G. Galli dan E. Bryssinck (6/1/2020), F. Kugel (8/1/2020), dan G. Gasparovic (9/1/2020).

Pada bulan April 2020, komet C/2019 Y4 melintasi rasi bintang Camelopardalis hingga akhir Maret 2020 (kedua rasi bintang ini relatif mudah dilihat oleh masyarakat di belahan Bumi utara.  Berdasarkan prediksi kecerlangannya, maka komet akan dapat dilihat dengan kasat mata sekitar 82 hari saja. Jaraknya saat ditemukan pertama kali sekitar 3 sa dari Matahari. Setelah diteliti bahwa posisi aphelion-nya berjarak 662 sa dengan perihelion 0,25 sa. Komet ini akan meninggalkan daerah rasi bintang Camelopardalis pada tanggal 12 Mei 2020 menuju rasi bintang Perseus dan lanjut ke Taurus di mana pada tanggal 23 Mei komet ini berada pada titik terdekatnya dengan Bumi. Saatnya pada 31 Mei, komet akan berada pada posisi terdekatnya ke Matahari.

Mengamati Komet Atlas

 

Munculnya Komet ATLAS, Sang Pengelana dari Tepian Tata Surya
Munculnya Komet ATLAS, Sang Pengelana dari Tepian Tata Surya. Posisi terbitnya komet C/2019 Y4 (ATLAS) pada pukul 05:01 WIB (Sumber :Stellarium 0.19.0)

Komet ini dapat dilihat dari Indonesia paling baik antara tanggal 31 Mei 2020 hingga 16 Juni 2020. Karena di rentang tanggal itulah komet C/2019 Y4 sangat cemerlang dengan magnitudo antara – 0,5 hingga – 6,8 (– 5). Pada awal April ini, komet C/2019 Y4 terletak pada kisaran koordinat asensiorekta 7j 49m dan deklinasi +680 57’ atau di daerah rasi bintang Camelopardalis dengan magnitudo 7,26 dan jarak sekitar 1,03 sa.

 

Munculnya Komet ATLAS, Sang Pengelana dari Tepian Tata Surya
Tabel kenampakan komet C/2019 Y4 di wilayah Jakarta. Sumber image: in-the-sky.org

Jika kita amati dari Planetarium dan Observatorium Jakarta maupun Pantai Ancol pada puncak kecerlangannya, yaitu 1 Juni 2020, komet ini mulai beranjak naik dari ufuk timur di daerah rasi bintang Taurus mulai pukul 05:01 WIB dan berada pada ketinggian sekitar 120. Sementara itu, pada pukul 05:56 WIB Matahari terbit. Kendati demikian, karena sangat cemerlang, maka komet ini akan tampak layaknya bintang yang disertai ekor. Berdasarkan warnanya, seharusnya tampak kehijauan.

Sumber: https://planetarium.jakarta.go.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini