Perkiraan waktu membaca artikel ini: 10 minutes

RUANGANGKASA.COM – Rasi bintang Leo digambarkan sebagai seekor singa dengan menggunakan simbol ♌. Rasi bintang LEO merupakan bagian dari 88 rasi bintang modern. Rasi bintang Leo berada di ekliptika dan dilintasi Matahari di belahan langit utara. Rasi LEO terletak di sebelah barat ada rasi Cancer dan rasi Hydra, di sebelah timur ada rasi Virgo dan rasi Coma Berenices, di sebelah utara ada rasi Crater, dan di sebelah selatan ada rasi Leo Minor, Ursa Mayor, dan Lynx. Menurut Persatuan Astronomi Internasional (IAU), Matahari akan berada di rasi bintang Leo mulai tanggal 11 Agustus sampai 17 September. Namun menurut ilmu astrologi, rentang waktu orang yang berzodiak Leo adalah dari tanggal 23 Juli sampai 22 Agustus.

Rasi Leo memiliki total 92 bintang, termasuk di dalamnya ada 13 bintang yang memiliki planet sendiri. Bintang yang paling terang di rasi ini ada 4, yaitu Alpha Leonis atau Regulus, Beta Leonis atau Denebola, Gamma Leonis atau Algieba, dan Delta Leonis atau Zosma. Regulus yang berarti sang raja kecil terletak di kepala singa. Sedangkan Denebola sesuai dengan artinya yaitu ekor singa, terletak jauh dari Regulus, tepatnya di ekor singa.

Sejarah penamaan Rasi Bintang Leo

Sejarah dan Penjelasan tentang Rasi Bintang Leo
Ilustrasi Rasi Bintang Leo

Dari segi luasannya di kubah langit bahwa Leo adalah rasi bintang terluas ke-12 dari 88 rasi bintang modern dengan area kisaran 947 derajat persegi. Dapat disaksikan bagi masyarakat pada garis lintang antara 90 LU dan 70 LS. Konstelasi atau rasi bintang di sekitarnya sebagai batasannya adalah CancerComa BerenicesCraterHydraLeo MinorLynxSextansUrsa Major, dan Virgo.

Leo adalah salah satu rasi bintang tertua di langit. Penemuan catatan telah ada sejak 4000 – 3200 SM (Roger, p.10). Di Jerman disebut Lowe, Italia LeoneAnglo-Norman Leun, di mana pada era Ptolemy meliputi hingga rasi bintang Coma Berenices.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa budaya pada kawasan Mesopotamia memiliki peta langit perbintangan yang mirip dengan peta wilayah Leo sejak 4000 SM. Adapun masyarakat Persia menyebutnya sebagai Shir atau Ser, orang Babylonia menyebutnya URA atau UR.GU.LA. Ada sebutan lain, yaitu Latarak – dewa pelindung berkepala singa; mungkin “kebiasaan” yang mirip dengan gambaran bangsa Mesir purba yang kerap menggambarkan dewa dewinya berkepala binatang. Latarak berarti singa besar (ada yang menyatakan anjing besar). Untuk bintang paling terangnya, yaitu Regulus diberi nama Lugal, ilustrasi bintangnya berada di dada sang singa. Dalam tinggalan Babylonia juga ada bentukan bintang (uniknya gelap/kehitaman yang berdasarkan analisis bahwa memang diwarnakan demikian) yang berada pada ekor singa. Namun, penelusuran nama dalam kisahnya tidak/belum dijumpai. Sementara itu, orang Suriah menyebutnya sebagai Aryo, dan orang Turki menjulukinya sebagai Artan.

Astronom era Hindu awal menyebut Leo sebagai Asleha atau Sinha, masyarakat Tamil menyebut Simham. Namun, pada era berikutnya setelah akulturasi dengan Yunani bahkan hingga masuknya budaya Romawi, dikenal sebagai Leya atau Leyaya, dampak penyebutan dari nama Leo. Kawasan langitnya merupakan nakshatra ke-8, yaitu Magha (Perkasa atau Baik/Dermawan), juga yang ke 9 dan 10, Pūrva dan Uttara. Ada disebut tentang Phalgunī, Yang Akhir, di mana makna dan maksud kata ini tidak pasti. Ada yang menyatakan terkait dengan “Yang Buruk”.

Pada pemetaan di kawasan Arab adalah untuk manzil (nakshatra) 8, 9, dan 10 di mana secara berturutan dapat disetarakan dengan Al Jabhah (Dahi), Al Zubrah (surai), dan Al Ṣarfah (tikungan/putaran). Namun, dari sisi lain, pada masyarakat Tiongkok, konsep sieu (nakshatra/manzil) ini yang terkait Leo tidak muncul. Mereka mengadopsi, sebagai gantinya, manzil yang berada pada kawasan langit antara rasi bintang Hydra dan Crater, sehingga pada masa sekarang bahwa pemetaan ini orisinal dari masyarakat Tiongkok (terkait asterism atau sebagai contoh adalah Lintang Waluku di Nusantara dengan Orion Sang Pemburu). Memang pada era kemudian bahwa dalam Zodiak yang berbasis ekliptika apa yang digambarkan sebagai singa bermaujud pada gambaran kuda. Pada era awal bahkan digambarkan sebagai bagian dari apa yang dijuluki the Red Bird (masalah pemetaan Tiongkok ini dapat dilihat semisal pada Scorpius – Sang Kalajengking). Sementara itu, ada yang menyatakan sebagai Shun HoBurung Puyuh Api. Namun, pada abad ke-16 masyarakat Tiongkok mengadopsi Leo dan menerjemahkan sebagai Sze Tsze. Kawasan langit di antara Leo dan Virgo disebut Tae Wei atau Shaou Wei, dan bagian barat dari Leo bersama Leo Minor dikenal sebagai Yellow Dragon, ditandai oleh garis yang dibentuk oleh sepuluh bintang dari Regulus melalui bagian “Sickle”, bentuk sabit (lihat gambar 4). Gambaran dari pemetaan ini dianalisis sebagai gambaran salah satu Kereta Kuda Surgawi dari kekaisaran Tiongkok.

Raja Mesir, Necepsos, dan filsufnya Petosiris, mengajarkan bahwa penciptaan Matahari berawal di rasi bintang ini, tepatnya dekat bintang bernama Denebola (lihat bahasan bintang terang di bawah) dan karenanya Leo disebut sebagai Domicilium Solis, simbolisasi api dan panas; dan dalam astrologi, disebut the House of the Sun, yang mengatur hati manusia. Pandangan ini masih terjadi pada kawasan Bohemia, Prancis, Italia, dan kota-kota Bath, Bristol, dan Taunton di Inggris, bahkan hingga wilayah Philadelphia. Manilius menulis bahwa rasi bintang ini mengayomi (menguasai) wilayah Armenia, Bitinia, Kapadokia, Makedon, dan Frigia. Dalam pernujuman dikatakan sebagai penanda keberuntungan, dengan sifat merah dan hijau. Menurut Ampelius, bertanggung jawab atas angin Thrascias yang disebutkan oleh Pliny, Seneca, dan Vitruvius yang datang dari utara. Dokter era itu menyatakan bahwa ketika Matahari berada di tanda ini, obat akan menjadi racun, dan bahkan bermandikan cahaya Matahari dianggap berbahaya; sementara peramal cuaca menyatakan bahwa kehadiran guruh sebagai pertanda kematian orang-orang hebat (penelope.edu).

Dari penyelisikan lain bahwa masyarakat Babylonia menggambarkan bintang Regulus, yang paling terang di rasi bintang tersebut, sebagai “bintang yang berdiri di dada Singa,” atau dapat lihat kutipan karya Dante di atas (Paradiso), Il petto del lione ardente (dada singa yang menyala/terbakar). Ada pula muncul sebutan Raja Para Binatang (King of the Beasts). Keduanya, baik rasi bintang maupun bintang paling terangnya dikenal oleh sebagian besar kebudayaan sejak bermillennia yang lalu.

Berbasis jejak budaya menera langit bahwa pencatatan perbintangan di kawasan Mesopotamia ternyata cukup beragam. Tentu saja hal ini terkait situasi yang terjadi pada tiap rentang masanya. Awal yang jelas dijumpai adalah era 3200 – 2100 SM, pada tinggalan berupa ragam tembikar. Yang awal dijumpai semisal hadirnya penokohan Taurus dan Leo. Dalam kasus ini ada kisah dewi yang berlutut atau mungkin seolah mengendarai 2 ekor singa, sang dewi digambarkan membawa senjata dan bersayap yang era kemudian diidentifikasi sebagai Ishtar (Rogers). Namun, pada era tahun 1100 – 700 SM untuk tokoh ini dilukiskn sebgai berikut (ref.: Mul-Apin by Gavin White):

 

The True Shepherd of Anu, Papsukal, the messenger of Anu and Ishtar (Orion)
The Twins who are opposite the True Shepherd of Anu, Lulal and Latarak (Cetus & part of Eridanus)
The star behind him, the Rooster (Lepus)
The Arrow, the arrow of the great god Ninurta (The star Sirius & probably other stars in Canis Major)
The Bow, the Elamite Ishtar, the daughter of Anu (Puppis)

Daerah perbintangan yang termasuk pada 23 Equatorial Stars on the Path of Anu yang merupakan pembagian langit pada era tersebut dan Scorpius. Perkiraan ada sejak 3200 SM. Pada kenyataan bahwa hewan ini memang banyak dijumpai, dapat juga sebagai simbolisasi dari kekuasaan atau dapat juga sebagai ranah spirit kepercayaan. Namun, karena adanya gambaran bintang gemintang, maka diyakini bahwa inilah cikal bakal gambaran rasi bintang Leo era awal. Khususnya, pada masa itu pula adanya penetapan wilayah langit Aquarius yang dianggap sebagai titik cardinal dari lingkaran langit yang kini dikenal sebagai ekliptika. Hadirnya Ishtar dan Virgo, masih dalam penelusuran karena dalam perkembangannya juga ada versi singa yang bersayap yang menunggang di atas tubuh ular besar (serpent) yang lambat laun menjadi rasi bintang Leo dan Hydra (Rogers). Penulis pun mencoba menyelisik Ishtar yang kadang dikaitkan dengan hadirnya Venus. Memang dalam kasus Serpent dijumpai bentukan yang serupa, Serpent dan sebut “pawangnya” yang kini adalah daerah rasi bintang Ophiuchus dan ularnya (Serpentcauda/ekor dan caput/kepala.

Kembali pada era Babylonia yang mana identifikasi terkadang membingungkan karena munculnya tokoh Ishtar, di sini dikutip karya penelitian Gavin White yang tertulis di atas lebih lengkap lagi sebagai berikut (ref.: Mul-Apin by Gavin White):

Mul-Apin

Mul-Apin is a composite text that can be thought of as a general compendium
dealing with many diverse aspects of celestial divination.
The first sections of tablet 1 list all the mainstream Babylonian constellations
along with the deities associated with them.
Various other sections give the rising dates for the stars
and provide further useful information
that helps to locate the constellations in relation to each other
and as such it is the single most important resource
for reconstructing the overall plan of the Babylonian starmap.
Even though the earliest copy so far discovered was only
written shortly after 700 BCE,
the text was probably composed sometime between 1200 and 1000 BCE.
The following lists are derived from ‘Mul.Apin,
An Astronomical Compendium
in Cuneiform’ by Hermann Hunger and David Pingree, 1989.
The locations of the Babylonian stars in terms of the Greek stars
are my own attributions.

Mul-Apin divides the stars into northern, equatorial and southern paths:

33 Northern stars on the path of Enlil


The Lion, Latarak  (Leo)
The stars that stands in the breast of the Lion, the King Star (The star Regulus in Leo)
The dusky stars that stand in the tail of the Lion, the Frond of Erua, Zarpanitu  (Coma Berenices & the western part of Virgo)

Hingga beberapa abad sebelum masehi juga terdapat apa yang dikenal sebagai Seleucid Zodiac yang tersimpan dalam bentuk 12 keping tanah liat di mana tiga diantaranya yang dijumpai adalah yang kini dikenal sebagai rasi bintang TaurusLeo dengan Corvus yang hinggap di tubuh Hydra, serta Virgo.

Banyak juga identifikasi yang berkembang. Memang bagi bangsa Sumeria, Leo menjadi penanda Summer Soltice (titik balik Matahari) di mana bintang terangnya disebut Sharru (Raja) tatkala era Babylonia yang dalam budaya Yunani menjadi Regulus yang justru disebut Raja Kecil. Yang disebut bintang pada ekor singa kemungkinan bagian dari rasi bintang modern Coma Berenice (Yunani dan kawasan Timur Tengah setelah hadirnya Islam). Namun, dari Eratosthenes dan Hyginus (Yunani) menyebut rasi bintang ini sebagai the hair of the queen Berenice of Egypt (dimaklumi karena Eratosthenes tinggal di wilayah yang kini adalah Mesir).

Dari ranah yang kini Persia (Elam), populer dengan Star of Elam yang merupakan rasi bintang yang kini disebut Pleiades (dulu dianggap rasi bintang sendiri yang kini bagian dari Taurus, lokasi di punggung banteng), LeoScorpiusAquarius (?). Juga GeminiLibraCancer. Julukan mereka semua adalah Star of Akkad/Amurru (2300 SM, era penaklukan Sumeria oleh Akkad: yang telah dipastikan adalah hadirnya banteng, singa, dan burung).

Pada versi lainnya bahwa Ishtar, adalah Dewi Langit – Whore of Babylon, dewi cinta dan kesuburan dan perang, ada yang disimbolkan dengan menggunakan senjata. Juga simbolisasi singa serta terkait masa panen. Kemudian hari menjadi pengejawantahan planet Venus. Namun, dalam sejarah, itu semua dapat dianggap sebagai awal mula adanya rasi bintang the Bow (kini Canis Major), Leo, dan Virgo.

Pada ranah Nusantara, tercatat penamaan Leo sebagai Lintang Kukusan (beda dengan Lintang Kemukus atau komet) atau Pusa (Yogyakarta), Singha (Solo, dengan karakter di bawah Batara Kala), Singa (Bali, atau kadang penamaannya dari Sanskrit adalah Singham).

Leo dalam Mitologi Yunani

 

Sejarah dan Penjelasan tentang Rasi Bintang Leo
Herakles dan singa Nemea

Konon, tugas pertama dari dua belas tugas yang diberikan oleh Dewi Hera pada Herkules adalah membunuh singa raksasa Nemea yang sangat terkenal akan kebuasannya. Begitu perkasanya Singa Nemea itu, hingga panah Hercules pun mental, tak menggoresnya sedikit pun. Pedangnya terbelah menjadi dua dan senjata kayunya hancur berkeping-keping.

Konon, Singa Nemea memiliki kulit yang tak dapat ditembus oleh besi, perunggu, dan kayu. Karena tak ada satu senjata pun yang dapat membantu Herkules membunuh singa buas tersebut, maka Herkules pun hanya dapat mengandalkan kedua tangannya. Mereka bergulat dengan sengit sampai akhirnya Hercules mencekik Singa Nemea itu sampai mati.

Herkules berhasil memenangkan pertarungan sengit itu dan menyelesaikan tugasnya. Kemudian, ia menguliti singa yang telah tak bernyawa itu dengan cakar sang singa sendiri, lalu mengenakan kulit sakti itu pada tubuhnya sebagai jubah sehingga ia terjaga dari bahaya. Hera sangat marah mendengar kemenangan Herkules. Ia mengirim jiwa Singa Nemea itu jauh ke atas langit untuk mengenang pertarungan hebat itu dan hingga saat ini dapat dilihat sebagai Rasi Leo yang indah, tidak lagi mematikan.

Begitulah Rasi Leo seperti dikisahkan dalam mitologi Yunani. Agaknya, sejak zaman dahulu, jauh sebelum mitologi Yunani itu berkembang, singa telah menjadi lambang kekuatan dan kekuasaan bagi banyak peradaban manusia. Orang-orang Mesir kuno menyembah Dewa Singa, dewa yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka percaya bahwa dunia diciptakan ketika matahari terbit di Rasi Leo, dekat Bintang Denebola.

Orang-orang Sumeria sejak dahulu juga telah melihat bentuk singa pada rasi ini. Orang-orang Persia menyebut rasi ini sebagai Ser. Orang-orang Turki menamainya Artan. Orang-orang Syria menyebutnya Aryo. Orang-orang Yahudi menyebut rasi ini Arye dan orang-orang Babylonia menyebutnya Aru. Beragam sebutan tetapi maknanya tetap satu, yaitu singa.

Mengamati Rasi Bintang Leo

Sejarah dan Penjelasan tentang Rasi Bintang Leo
Peta Langit Rasi Bintang Leo (ref.: iau.org/LEO)

Rasi Leo adalah salah satu dari sekian banyak rasi bintang yang terlihat hampir sesuai dengan namanya, yaitu singa. Oleh karena itu, Rasi Leo ini termasuk rasi yang mudah dikenali. Terletak pada asensiorekta 11h dan deklinasi 150, Rasi Leo berbatasan dengan Rasi Ursa Mayor, Leo Minor, Cancer, Hydra, Sextans, Crater, Virgo, dan Coma Berenices. Rasi Leo tampak jelas dilihat pada bulan April di langit belahan bumi utara.

Untuk menemukan Rasi Leo di langit, akan lebih mudah menemukan bentuk tanda tanya terbalik pada rasi itu terlebih dahulu. Rasi Ursa Mayor yang terdapat di sebelah utara Rasi Leo dapat juga dijadikan acuan untuk menemukan Rasi Leo. Seperti yang kita ketahui, pada Rasi Ursa Major terdapat bentuk gayung di dalamnya atau biasa disebut bintang tujuh. Ikuti saja bentuk gayung tersebut mulai dari pegangannya ke bagian bawah gayung. Kita akan sampai ke satu bintang terang, Regulus. Bintang ini kemudian akan menuntun kita ke bentuk tanda tanya terbalik yang ada di sebelah atasnya, yang selanjutnya akan menuntun kita melihat keseluruhan bentuk singa pada Rasi Leo.

Regulus, bintang terang yang telah disebutkan tadi tak lain adalah bintang yang paling terang ( ? Leo) di Rasi Leo. Memiliki magnitudo (skala kecerlangan bintang) 1.4, diameter dan massanya tiga kali lebih besar dari matahari. Temperatur permukaannya sekitar 12.500 K, bandingkan dengan matahari kita yang “hanya” 6.000 K. Tidak heran jika Regulus, yang jaraknya sekitar 78 tahun cahaya dari bumi ini, dapat bersinar 160 kali lebih terang daripada matahari kita.

Nama Regulus, yang artinya bintang kecil, diberikan tak lain oleh astronom terkenal Polandia, Nicholaus Copernicus. Dalam peradaban Sumeria kuno, Regulus berarti bintangnya Raja. Regulus termasuk salah satu bintang yang mudah kita kenali di langit malam.

Jika diamati dengan cermat melalui teleskop, Regulus sebenarnya bukan bintang tunggal. Ia merupakan bintang majemuk yang terdiri dari tiga bintang. Dalam astronomi, bintang majemuk (multiple stars) adalah suatu sistem yang dibentuk oleh lebih dari satu komponen bintang yang terikat satu sama lain akibat gaya tarik gravitasi antar bintang-bintang itu dan semua mengorbit mengitari titik pusat massanya. Contohnya adalah bintang ganda yang dibentuk oleh dua komponen bintang.

Bintang Denebola adalah bintang kedua paling terang ( ? Leo) pada Rasi Leo. Nama Denebola berasal dari Bahasa Arab “Al-Dhanab-Al-Asad”, artinya ekor singa, yang memang sesuai dengan letaknya.

 

Sejarah dan Penjelasan tentang Rasi Bintang Leo
Daerah sabit (atas) kini adalah bagian depan singa atau dadanya
yang ditandai bintang Regulus sebagai pangkal sabit.
Adapun Denebola berada di daerah ujung ekornya.
(Program Software Stellarium 0.12.4) sumber: https://planetarium.jakarta.go.id

Selain Regulus dan Denebola, bintang-bintang yang lebih redup pada Rasi Leo pun telah mempunyai nama. Sesuai dengan urutan kecerlangannya, mereka adalah Algieba (?1Leo), Zosma ( ? Leo), Ras Elased Australis ( ? Leo), Adhafera ( ? Leo), ? Leonis, Chort ( ? Leo), Al Minliar Al Asad ( ? Leo), Alterf ( ? Leo), Ras Elased Borealis ( ? Leo), dan Subra ( ? Leo). Regulus, ? Leonis, dan Algieba, bersama dengan bintang lain yang lebih redup yaitu Adhafera ( ? Leo), Ras Elased Borealis ( ? Leo), dan Ras Elased Australis ( ? Leo), membentuk tanda tanya terbalik, menandai kepala singa dan rambutnya.

Selain bintang-bintang yang telah disebutkan di atas, dapat juga kita amati galaksi-galaksi yang amat jauh pada rasi Leo ini. Yang terkenal di antaranya adalah galaksi-galaksi spiral M65, M66, M95, M96, dan galaksi elips, M105. Tentu saja, untuk dapat melihat galaksi-galaksi ini, kita harus melihatnya melalui teleskop, mulai dari teleskop sedang, karena terlalu lemah untuk dilihat melalui binokular. Bintang Wolf 359, bintang yang termasuk dekat dengan tata surya kita (7.7 tahun cahaya) juga dapat dilihat di rasi ini.

Pada suatu saat di bulan November, kita akan menyaksikan banyak sekali meteor – yang dikenal juga dengan sebutan bintang jatuh – di langit dan jauh lebih terang dari meteor biasa datang dari arah Rasi Leo. Inilah yang disebut Leonid Meteor Shower. Dinamakan demikian karena meteor-meteor tersebut seolah-olah berasal atau dipancarkan dari suatu titik pada Rasi Leo. Ini sebetulnya hanya perspektif kita yang memandang dari bumi, seperti halnya jalan yang tampak menyatu di kejauhan.

Pada mulanya, orang-orang zaman dahulu sangat terkejut akan peristiwa hujan meteor ini. Mereka sangat takut karena mereka pikir kiamat telah datang. Tetapi tidak begitu dengan para ilmuwan astronomi zaman dahulu. Mereka tertarik dan amat penasaran dengan peristiwa hujan meteor. Leonid meteor shower ini adalah hujan meteor yang pertama kali menarik orang-orang untuk mempelajarinya.

Kebanyakan hujan meteor diproduksi oleh komet. Dalam hal Leonid meteor shower, komet asalnya yang dinamakan Tempel-Tuttle tampak di langit sekitar 33 tahun sekali. Leonid meteor shower biasanya terjadi pada 14-21 November. Rentang waktu Leonid meteor shower berlangsung lebih cepat daripada hujan meteor lainnya.

 

*Diolah dari berbagai sumber

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini