RUANGANGKASA.COM – Bulan Juli kembali hadir, meski saat ini keadaan masih dalam pandemi Covid-19 yang belum menunjukan tanda-tanda akan berakhir, namun kita tak boleh terus larut dalam kondisi ini. Jaga terus semangat, karena di bulan Juli ini akan ada banyak fenomena langit yang menakjubkan untuk diamati.

Terima kasih telah membaca artikel ini, jangan lupa untuk berlangganan artikel!

Ruangangkasa.com kembali memberikan jadwal fenomena langit beserta penjelasannya yang akan terjadi pada bulan ini. Hal paling menarik yang terjadi di bulan Juli ini adalah, saat yang terbaik untuk melihat planet-planet di tata surya, juga matahari akan tepat berada diatas Kabah. Berikut penjelasan selengkapnya:

4 Juli 2020: Bumi Mencapai Aphelion

Apa itu aphelion? Aphelion merupakan istilah untuk menyebut jarak terjauh yang dicapai Bumi dari Matahari kita. Dalam orbit elipsnya mengelilingi Matahari, Bumi memang bisa tuh mencapai aphelion dan perihelion (jarak terdekat).

“Wah, kalau Bumi mencapai perihelion, berarti suhu Bumi makin panas dong, dan kalau mencapai aphelion berarti Bumi makin dingin?”

Sayangnya tidak seperti itu. Pemikiran tersebut malah merupakan sebuah miskonsepsi. Faktanya, fenomena aphelion dan perihelion tidak secara signifikan berperan dalam perubahan suhu Bumi karena perbedaan jaraknya hanya sedikit mengingat eksentrisitas orbit Bumi hanya 0,016.

Secara astronomis, aphelion akan dicapai Bumi pada 4 Juli 2020 pukul 18.34 WIB. Jarak Bumi dari Matahari akan mencapai yang terjauh satu sama lain, yakni sekitar 1,02 AU, atau skeitar 152,1 juta kilometer.

Mengamati Fenomena Langit di bulan Juli 2020
Ilustrasi Aphelion, Jarak terjauh Bumi dari matahari.

Secara teknis, aphelion adalah fenomena ketika Matahari tampak memiliki diameter sudut yang lebih kecil (sekitar 31’27”) di langit daripada di waktu lainnya dalam setahun, serta juga momen ketika Bumi menerima radiasi paling sedikit darinya. Namun dalam praktiknya, perbedaan diameter sudut Matahari hampir tidak terlihat karena perbedaan jarak perihelion-aphelion Bumi hanya sekitar 3%.

Pun perubahan tahunan dalam suhu dan cuaca planet kita, misalnya antara musim panas dan musim dingin, sepenuhnya disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi, bukan oleh perubahan jaraknya dari Matahari.

5 Juli 2020: Bulan Purnama Berkonjungsi dengan Jupiter

Mengamati Fenomena Langit di bulan Juli 2020
Ilustrasi Bulan Purnama Berkonjungsi dengan Jupiter

Bila cuaca cerah, coba amatilah langit timur sekitar sejam setelah Matahari terbenam. Kamu bisa menemukan Bulan purnama di sana yang ditemani oleh planet Jupiter. Keduanya, dalam pandangan dari Bumi, hanya akan terpisah sejauh 4 derajat satu sama lain pada awal malam tanggal 5 Juli dan akan semakin dekat mencapai 1 derajat satu sama lain pada dini hari tanggal 6 Juli.

Secara astronomis, Bulan mencapai fase purnama pada 5 Juli 2020 pukul 11.44 WIB, namun ia baru terbit saat Matahari terbenam sore harinya. Pada fenomena ini, Bulan akan bersinar dengan magnitudo -12,6 dan Jupiter dengan magnitudo -2,7. Keduanya sangat terang untuk diamati dengan mata telanjang, tetapi butuh teleskop untuk bisa melihat Jupiter lebih jelas. Bulan purnama dan Jupiter yang berdampingan ini bisa diamati sepanjang malam.

6 Juli 2020: Konjungsi Bulan dengan Saturnus

Mengamati Fenomena Langit di bulan Juli 2020
Iustrasi Konjungsi Bulan dengan Saturnus

Di tanggal 6 Juli giliran Saturnus yang didekati oleh Bulan. Dalam pandangan dari Bumi, keduanya akan terpisah sejauh 2 derajat satu sama lain.

Kita bisa mengamatinya mulai puku 20.00 waktu setempat di daerah masing-masing, ketika Bulan dan Saturnus akan berada di langit timur, baru saja terbit sejam yang lalu. Jika diamati lewat mata telanjang, Saturnus hanya akan seperti bintang kuning terang di sisi timur laut Bulan. Kamu membutuhkan teleskop untuk bisa melihat cincinnya.

12 Juli 2020: Konjungsi Bulan dengan Mars

Ilustrasi Konjungsi Bulan dengan Mars

Ingin melihat planet Mars di langit? Planet ini akan tampak bagai bintang kemerahan terang jika diamati dengan mata telanjang, Mars akan berada di dekat Bulan pada 12 Juli 2020. Keduanya akan terpisah sejauh 2 derajat satu sama lain.

Untuk melakukan pengamatan, mulailah amati langit timur pukul 00.00 dini hari waktu setempat daerah kamu, ketika Bulan sudah berada pada ketinggian sekitar 17 derajat dan Mars pada ketinggian sekitar 28 derajat dari cakrawala.

Gunakan teleskop dengan pembesaran minimum 130x untuk bisa melihat Mars lebih jelas, bahkan lengkap dengan tudung es kering di kedua kutubnya. Pengamatan mata telanjang hanya akan menampakkan Mars seperti bintang merah terang saja.

13 Juli 2020: Fase Bulan Perbani Akhir

Perbani akhir merupakan fase ketika Bulan tampak separuh. Namun, karena ia sudah mencapai 3/4 jalan dalam orbitnya mengelilingi Bumi, ia akan terbit pada tengah malam saat mencapai fase ini, lalu terbenam 12 jam kemudian (pada tengah hari).

Dengan begitu, saat Matahari terbit, kita masih bisa melihat Bulan di langit yang biru, tepatnya di langit atas kepala. Secara astronomis, fase perbani awal sendiri dicapai Bulan pada pukul 06.29 WIB. Bulan akan berjarak sekitar 404.000 kilometer jauhnya dari Bumi.

14 Juli 2020:

Mengamati Fenomena Langit di bulan Juli 2020
Ilustrasi Jupiter Mencapai Oposisi

Dalam astronomi, oposisi adalah fenomena yang terjadi pada planet-planet yang berada di luar orbit Bumi dalam hal mengelilingi Matahari, disebut planet luar. Ketika mencapai titik oposisi, artinya sebuah planet luar sedang berada di sisi yang berseberangan dari Matahari. Dengan kata lain, Matahari-Bumi-planet luar sedang segaris lurus di bidang tata surya.

Nah, oposisi Jupiter ini menandai momen ketika sang planet terbesar di tata surya kita itu berada di seberang Matahari dalam pandangan dari Bumi, Matahari-Bumi-Jupiter sedang segaris lurus, membuat Jupiter sedang terletak pada jarak terdekatnya dari Bumi.

Terdekat di sini masih dalam skala kosmis ya. Jarak Bumi-Jupiter masih akan sekitar 4,14 AU, atau sekitar 619,3 juta kilometer. Dengan begitu, kenampakan Jupiter di langit Bumi juga masih akan seperti bintang, hanya saja akan lebih terang dengan magnitudo -2,7. Inilah saat terbaik untuk mengamati planet Jupiter.

Karena berada di titik oposisi, Jupiter akan terbit saat Matahari terbenam, lalu terbenam 12 jam kemudian saat Matahari terbit. Itu artinya, kita bisa melihat sang planet raksasa gas sepanjang malam. Gunakan teleskop untuk pengamatan yang lebih jelas ya.

15 Juli 2020: Matahari di atas Ka’bah

Posisi atau kedudukan Matahari tepat di atas Ka’bah akan kembali terjadi pada 15 Juli mendatang, dan menjadi yang kedua sekaligus terakhir pada tahun 2020 ini. Matahari pada posisi ini, berkedudukan tepat melintas di lintang Ka’bah (21º 25′ LU) dalam gerak semu tahunannya. Serta, pada saat yang sama juga, Matahari sedang melintaaasi garis meridian Ka’bah (39º 50′ BT). Matahari akan tepat berada di titik zenith Ka’bah. Anda yang berada di wilayah selain Kepulauan Maluku dan Pulau Irian bisa mengamati terjadinya fenomena Matahari di atas Ka’bah ini.

17 Juli 2020:

Mengamati Fenomena Langit di bulan Juli 2020
Ilustrasi Segitiga Bulan-Venus-Aldebaran

Bagi yang rajin bangun pagi, apakah kamu menyadari adanya penampakan “bintang” yang sangat terang di langit timur laut saat dini hari? Itu bukan bintang, melainkan planet Venus.

Pada 17 Juli 2020, posisi Bulan akan berada di dekat Venus dalam pandangan dari Bumi, keduanya akan terpisah sejauh sekitar 3 derajat satu sama lain. Menariknya, akan ada bintang Aldebaran juga di antara mereka. Aldebaran sendiri adalah bintang raksasa merah paling terang di rasi bintang Taurus.

Ketiga objek langit ini akan membentuk formasi segitiga yang cantik di langit. Kamu bisa mulai mengamatinya pukul 04.00 dini hari waktu setempat daerahmu hingga Matahari terbit untuk membirukan langit.

20 Juli 2020: Komet Neowise (C/2020 F3)

Fenomena komet Neowise (C/2020 F3) ini menjadi menarik untuk dapat kamu saksikan karena merupakan komet yang baru ditemukan pada akhir Maret 2020 ini. Untuk diketahui, perihelion dari komet Neowise ini memiliki periode yang sangat panjang yaitu sekitar 5.000 tahun. Di Indonesia, komet Neowise ini akan tampak di langit barat laut mulai 20 Juli 2020 mendatang, dengan ketinggian yang terus meningkat.

20 Juli 2020: Saturnus Mencapai Oposisi

Mengamati Fenomena Langit di bulan Juli 2020
Ilustrasi Saturnus Mencapai Oposisi

Seolah mengikuti langkah Jupiter, planet Saturnus juga akan mencapai titik oposisi pada bulan ini, tepatnya tanggal 20 Juli 2020. Dan ya, inilah saat terbaik untuk melihat sang planet bercincin!

Akan terlihat sepanjang malam, Saturnus akan muncul terang dengan magnitudo 0,1. Namun, karena jarak Bumi-Saturnus masih akan  sekitar 8,99 AU, atau sekitar 1,34 miliar kilometer jauhnya. Dengan begitu, kenampakan Saturnus dari Bumi kalau diamati dengan mata telanjang hanya akan seperti bintang kuning terang saja.

Kamu butuh teleskop dengan pembesaran minimum 75x untuk bisa melihat Saturnus lengkap dengan cincinnya. Meski begitu, kalau memang belum memiliki teleskop, pengamatan dengan mata telanjang juga tetap indah untuk dicoba.

27 Juli 2020: Fase Bulan Perbani Awal

Sama seperti perbani akhir, perbani awal adalah fase di mana Bulan tampak separuh. Bedanya, Bulan baru mencapai titik 1/4 dalam orbitnya mengelilingi Matahari, sehingga ia akan terbit pada tengah hari dan sudah terlihat di langit pada sore hari walaupun Matahari belum terbenam.

Mencapai langit atas kepala saat Matahari terbenam, Bulan perbani awal akan terbenam pada tengah malam. Secara astronomis, fase ini dicapai Bulan tepat pada pukul 19.33 WIB.

29 Juli 2020: Hujan Meteor Delta Akuarid Selatan

Mengamati Fenomena Langit di bulan Juli 2020
Ilustrasi hujan meteor Delta Akuarid Juli 2020

Fenomena hujan meteor Delta Akuarid Selatan ini merupakan fenomena periodik, yang artinya selalu terjadi tiap tahun. Dan pada tahun ini, kesempatan kita untuk mengamatinya datang lagi.

Hujan meteor terjadi ketika dalam orbitnya mengelilingi Matahari, Bumi melintasi bekas jalur yang pernah dilalui sebuah komet. Bekas jalur tersebut berisi jutaan puing-puing kecil yang ditinggalkan oleh sang komet ketika menguap terkena radiasi Matahari.

Saat Bumi melintasi bekas jalur orbit komet yang berisi jutaan puing-puing kecil itu, sebagian besar dari mereka akan tertarik oleh gravitasi Bumi, lalu masuk ke atmosfer dan terbakar sebagai meteor. Nah, karena ukurannya kecil-kecil, meteor-meteor ini akan terbakar habis di atmosfer sebelum bisa mencapai permukaan Bumi untuk menciptakan kerusakan.

Asal muasal hujan meteor Delta Akuarid Selatan sendiri adalah dari Komet P/2008 Y12 (SOHO), sebuah komet yang mengitari Matahari setiap 5,39 tahun. Nama “Delta Akuarid Selatan” sendiri berasal dari titik radian kemunculan hujan meteor ini di langit Bumi, yakni di sisi selatan dari bintang Delta di rasi bintang Akuarius.

Akan ada 20-an meteor per jam yang bisa diamati pada puncaknya tanggal 29 Juli 2020, dengan catatan lokasi pengamatan gelap gulita minim polusi cahaya. Pengamatan juga wajib dilakukan dengan mata telanjang, tanpa perlu teleskop. Fenomena ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia selama cuaca cerah mulai pukul 21.00 malam waktu setempat hingga Matahari terbit esok harinya.

 

Nah begitulah tadi fenomena langit yang akan terjadi di bulan Juli ini, jangan sampek terlewat untuk mengamatinya ya, semoga bermanfaat.

 

*Sumber Infoastronomy.org, kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here