Kisah Perempuan dan Penjelajahan Antariksa di Masa Depan

RUANGANGKASA.COMEksplorasi ruang angkasa atau penjelajahan antariksa telah dimulai sejak manusia pertama kali berhasil menjelajah antariksa dengan menggunakan kapsul ruang angkasa yang bernama Vostok 1. Hingga saat ini hanya 566 orang yang pernah melakukan perjalanan ke luar angkasa. Enam puluh lima dari mereka, atau sekitar 11,5 persen, adalah seorang perempuan. Data tersebut memicu Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan akan menempatkan “perempuan pertama dan pria berikutnya” di Bulan pada tahun 2024. Namun, ada yang ganjil dari pernyataan itu. Ketika usia penjelajahan antariksa sudah berusia hampir enam dekade, astronot perempuan masih tertinggal dari rekan laki-laki mereka.

Terima kasih telah membaca artikel ini, jangan lupa untuk berlangganan artikel!

Terbatasnya akses perempuan ke ruang angkasa, tidak hanya sebagai astronot saja tetapi juga sebagai pengguna dan pencipta dari berbagai penelitian ruang angkasa seperti pengamatan Bumi dan telekomunikasi satelit, masih jauh dari kata setara. Namun ada tanda-tanda kemajuan. Salah satunya adalah program Space4Women yang dijalankan oleh Kantor Urusan Luar Angkasa PBB (UNOOSA), yang bertujuan untuk memastikan agar “pemanfaatan pengembangan ilmu keantariksaan dapat menjangkau perempuan dan anak perempuan, dan agar mereka memainkan peran aktif serta setara dalam ilmu ruang angkasa, teknologi, inovasi, dan eksplorasi,” demikian seperti dikutip dari Sciencealert.com.

Baca juga: Christina Koch Astronot Perempuan dengan Pernerbangan Terlama di Angkasa

Seperti yang dicatat oleh direktur UNOOSA, Simonetta di Pippo, 40 persen dari target tujuan pembangunan berkelanjutan PBB bergantung pada penggunaan ilmu dan teknologi ruang angkasa. Rencana NASA untuk mendaratkan seorang astronot perempuan di Bulan adalah tanda positif lainnya. Pada tur dunia pasca-misinya mengorbit Bumi pada 1964, pionir astronaut perempuan, Valentina Tereshkova, menyatakan keinginannya sendiri untuk pergi ke Bulan, tetapi dia tidak pernah membuat pesawat luar angkasa lain. Pada usianya yang kini menginjak 83 tahun, Dr Tereshkova memiliki karier yang cemerlang dalam sains dan politik, serta kini menjadi anggota parlemen Rusia. Melihat seorang perempuan menginjakkan kaki di permukaan Bulan dalam masa hidupnya akan benar-benar menjadi momen yang luar biasa.

Sejarah Perempuan dan Luar Angkasa

Tereshkova dalam misi ke luar angkasa Vostok 6 tahun 1963. Credit Image www.spaceanswers.com

Perempuan pertama yang berhasil ke luar angkasa adalah kosmonaut Rusia, Valentina Vladimirovna Tereshkova, yang mengorbit Bumi 48 kali dari 16 – 18 Juni 1963. Kesuksesannya kemudian menjadi propaganda Perang Dingin untuk menunjukkan keunggulan Uni Soviet. Pada Kongres Dunia Perempuan 1963, pemimpin Soviet Nikita Khrushchev menggunakan perjalanan Tereshkova untuk menyatakan bahwa Uni Soviet telah mencapai kesetaraan bagi perempuan. Wanita di seluruh duniapun menaruh simpati dan bermimpi mereka juga dapat melakukan perjalanan ke luar angkasa.

Baca juga: 4 Kisah Inspiratif Manusia di Ruang Angkasa

Ekaterina Ergardt, seorang buruh tani negara bagian Soviet, menulis kepada Tereshkova: “Umur saya delapan puluh tahun. Saya mulai hidup di tahun-tahun awal perjuangan perempuan untuk kehidupan kebebasan dan kesetaraan … sekarang jalan menuju ruang terbuka bagi perempuan.

Terlepas dari optimisme itu, keterlibatan perempuan pada penjelajahan angkasa luar masih terpinggirkan. Bahkan, butuh waktu 19 tahun sebelum perempuan lain diizinkan untuk menjelajah di luar Bumi.

Di Amerika Serikat, perempuan terpinggirkan dari misi ruang angkasa karena kebijakan “astronot haruslah pilot tes militer” sebuah profesi yang saat itu dilarang bagi perempuan. Bahkan, ketika program pelatihan tim astronaut perempuan pertama selesai dilaksanakan, kesempatan bagi mereka untuk pergi ke luar angkasa harus mengalah dengan laki-laki.

Contoh ternama program eksplorasi ruang angkasa NASA adalah proyek Mercury 7 pada 9 April 1959, yang dipimpin oleh Dokter Randy Lovelace, di mana mereka merekrut 7 orang laki-laki. Proyek ini memilik 3 misi:

  • Menempatkan wahana berawak di orbit sekitar bumi.
  • Mengamati kinerja manusia dalam kondisi di orbit bumi.
  • Kembali ke Bumi dengan selamat.

Selain program pelatihan astronot Amerika pertama, yang dikenal sebagai Mercury 7, saat itu juga ada pelatihan terhadap 13 perempuan yang dikenal dengan FLATs (First Lady Astronaut Trainees) atau Mercury 13. Mereka kemudian diujicoba dengan apa yang telah dilakukan oleh astronaut pria dengan tingkat kesulitan yang sama. Hasil menunjukan bahwa para perempuan jauh lebih unggul dari tim pria, namun NASA tetap kurang yakin dari hasil tes tersebut.

Kisah Perempuan dan Penjelajahan Antariksa di Masa Depan
Jerrie Cobb dengan Kapsul Mercurius tahun 1960an. Image Credit Wikimedia Commons

Salah satu calon astronaut saat itu, Jerrie Cobb mengatakan bahwa hal tersebut sangat konyol. “Saya merasa sedikit konyol ketika saya membaca di sebuah surat kabar bahwa ada sebuah tempat bernama Chimp College di New Mexico di mana mereka melatih simpanse untuk penerbangan luar angkasa, satu seorang wanita bernama Glenda. Saya pikir setidaknya penting untuk membiarkan para wanita menjalani pelatihan untuk penerbangan luar angkasa ini,” ujarnya. Cobb menambahkan bahwa mreka “siap untuk menggantikan simpanse, jika itu satu-satunya cara (bagi perempuan) untuk pergi ke ruang angkasa.”

Masa Depan Astronot Perempuan

Kisah Perempuan dan Penjelajahan Antariksa di Masa Depan
Astronot Wanita NASA, Christina Koch. (Image Credit: NASA)

Secara historis, ilmuwan-ilmuwan seperti Randy Lovelace yang percaya perempuan harus pergi ke ruang angkasa hanya melihat peran perempuan sebagai asisten astronaut laki-laki. Bahkan, pada beberapa periode sejarah, astronaut perempuan bahkan hanya sebatas narasi dan ide, salah satunya di ranah budaya populer AS.

Baca juga: Kisah Astronot Muslim Pertama Dalam Peluncuran Discovery STS-51G

Contohnya adalah beredarnya draf katalog foto dari majalah dewasa populer Playboy Magazine yang menampilkan potret dari para model –Playboy Playmates– mereka seperti Cynthia Myers, Angela Dorian, Reagan Wilson, dan Leslie Bianchini dengan mengambil tema misi Apollo 1969 yang mendaratkan manusia untuk pertama kalinya di Bulan.

Namun, para model itu bukan ditempatkan sebagai astronaut, melainkan disamakan dengan lanskap Bulan. Pesan implisitnya, Bulan dan perempuan, keduanya adalah objek penaklukan laki-laki. Hal ini dipengaruhi atas kenyataan bahwa dalam budaya populer pada 1960-an, perempuan sering dikaitkan dengan sihir dan emosi daripada sains dan teknologi.

Keadaan mulai membaik pada 1970, di mana ada gerakan-gerakan perempuan yang menunjukan bahwa mereka layak mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki. Akhirnya, Svetlana Savitskaya menjadi seorang astronaut perempuan kedua yang berhasil ke ruang angkasa pada tahun 1982. Pada tahun berikutnya, ada Sally Ride.

Pada abad ke-21, masih ada hambatan untuk partisipasi setara perempuan dalam penjelajahan ruang angkasa. Pola pikir yang misoginis juga terjadi di kalangan petinggi NASA. Administrator NASA Ken Bowersox pernah menjelaskan bahwa tubuh astronaut yang ideal adalah laki-laki. Dia menyalahkan perawakan rata-rata perempuan yang lebih kecil, mengatakan mereka kurang mampu “menjangkau dan melakukan hal-hal sedikit lebih mudah”.

Apakah tubuh perempuan yang menjadi masalah, atau angkasa luar dibangun untuk pria? Seperti apa teknologi ruang angkasa yang dirancang oleh dan untuk wanita? Ada kesenjangan data gender yang sangat besar di ruang angkasa. Ada jauh lebih sedikit penelitian tentang efek gayaberat mikro pada tubuh wanita daripada yang ada untuk pria.

Namun, perempuan dalam banyak hal adalah astronot yang ideal. Kekuatan dan tinggi fisik bukan keuntungan dalam gravitasi mikro. Wanita menggunakan lebih sedikit makanan dan oksigen, mempertahankan berat badan lebih baik dengan diet terbatas, dan menghasilkan lebih sedikit limbah. Dalam kata-kata Sally Ride, “bobot adalah penyeimbang yang hebat.”

 

*Artikel ini menyadur dari publikasi Sciencealert.com yang berjudul “Almost 90% of Astronauts Have Been Men. But The Future of Space May Be Female”, yang menerbitkan kembali tulisan Alice Gorman, profesor arkeologi dan studi antariksa Flinders Universirty, untuk The Conversation.

Artikel Menarik Lainnya

LANGGANAN ARTIKEL

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini