Perkiraan waktu membaca artikel ini: 3 minutes

RUANGANGKASA.COM – Mengabadikan keindahan langit malam saat ini tentu jauh lebih mudah daripada beberapa dekade lalu. Saat ini banyak ponsel atau smartphone yang telah disematkan kamera yang canggih untuk segala hal, termasuk juga dapat digunakan untuk memotret bentangan galaksi Bimasakti di langit malam. Lantas, smartphone apa sebenarnya yang cocok digunakan? Dan bagaimana cara untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus? Berikut pembahasannya:

Hal utama agar dapat memotret bentangan galaksi Bimasakti adalah dengan menggunakan kamera smartphone yang memiliki fitur bawaan yang membuatnya bisa mengumpulkan cahaya sebanyak-banyaknya di tengah kegelapan malam. Atau dalam bahasa fotografi, dikenal dengan istilah “long exposure“. Setidaknya, ada tiga parameter dalam long exposure. Pertama adalah aperture atau bukaan, yang berfungsi sebagai jendela pada kamera tempat cahaya masuk. Aperture disimbolkan dengan f/x.x (misal f/5.0, f/4.0, f/3.0, dsb). Semakin kecil angka aperture, semakin lebar jendela yang terbuka pada kamera.

Foto oleh Darrel Und dari Pexels
Namun sayangnya, aperture pada kamera smartphone biasanya sudah “fixed“, alias tidak dapat diutak-atik, seperti diperbesar maupun diperkecil. Dengan begitu, sebaiknya kita lanjut ke bahasan mengenai kecepatan rana dan ISO saja. Untuk ISO (sensitivitas sensor dalam menerima cahaya), yang biasanya tertulis ISO 50, ISO 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400 dan seterusnya. Semakin besar angka ISO, semakin sensitif sensor kamera dalam menerima cahaya. Namun, perlu dicatat, semakin besar ISO juga semakin banyak “noise” atau “semut” pada hasil fotonya.

Lantas yang terakhir adalah shutter speed atau kecepatan rana, yakni waktu yang diperlukan sensor dalam menerima cahaya. Yang ketiga inilah fitur yang paling penting dalam teknik long exposure. Dengan kata lain, kamera smartphone yang baik untuk fotografi bentangan galaksi Bimasakti adalah yang secara perangkat keras dan perangkat lunaknya sudah mendukung teknik long exposure.

Sebelumnya, pastikan terlebih dahulu aplikasi kamera bawaan pada smartphone yang Anda punya sudah memiliki pengaturan yang lengkap untuk mengatur hal-hal seperti ISO, kecepatan rana, fokus, dan keseimbangan putih (white balance/WB) secara manual, bukan dari aplikasi kamera pihak ketiga. Empat konfigurasi ini wajib ada. Bisanya empat konfigurasi ini ada di mode manual atau pro (beda smartphone, biasanya beda sebutan). Nah, untuk menangkap jepretan bentangan Bimasakti di langit malam, kecepatan rana minimal adalah 16 detik ke atas. Jika kurang dari itu, Bimasakti tidak akan terlalu jelas terlihat di hasil fotonya.
Untuk menghasilkan jepretan bentangan galaksi Bimasakti yang bagus, Anda bisa mengatur kecepatan rana 16 sampai 30 detik. Usahakan jangan melebihi 30 detik karena akan membuat bintang-bintang pada hasil jepretanya menjadi bergaris (trail). Yang tidak kalah penting, kamu sangat butuh tripod. Sebagus apapun kamera smartphone yang kamu punya, tanpa tripod nanti hasilnya akan goyang atau blur. Karena kita akan memotret dengan smartphone, pastikan memiliki tripod khusus dan kokoh untuk smartphone. Kalau sudah punya smartphone yang mendukung dan tripod yang kokoh, selanjutnya Anda perlu tahu kapan bentangan Bimasakti terlihat di langit.

Penampakan Galaksi Bimasakti dari bulan ke bulan:

  • Mulai dari pertengahan Februari, inti Bimasakti akan terbit sesaat sebelum Matahari terbit. Satu-satunya cara untuk melihat Bimasakti pada bulan Februari adalah bangun jam 3-4 pagi. Sayangnya, Februari belum menjadi bulan yang ideal karena cenderung masih musim hujan.
  • Memasuki bulan April, Bimasakti akan mulai terbit sekitar tengah malam dan akan tetap terlihat di langit hingga Matahari terbit.
  • Pada bulan Juni, bulan paling ideal untuk melihat Bimasakti, bentangan galaksi kita akan terbit sesaat setelah Matahari, lalu mencapai titik tertinggi di langit pada tengah malam, hingga akhirnya terbenam di barat menjelang Matahari terbit. Itu artinya, Bimasakti terlihat sepanjang malam pada bulan Juni!
  • Sepanjang Juli, Bimasakti sudah mulai terbit pada sore hari, dan akan terbenam pada malam hari menjelang sepertiga malam.
  • Selain Juli, mulai Agustus hingga Oktober juga merupakan bulan-bulan terbaik untuk melihat inti Bimasakti, yang mana akan teramati dengan baik pada waktu dini hari. Kalau kamu merencanakan naik gunung untuk melihat Bimasakti, bisa dicoba di bulan-bulan ini.
  • Pada bulan November, Desember, dan Januari, Bimasakti benar-benar tidak akan terlihat karena terbit pada pagi hari, mencapai titik tertinggi pada siang hari, dan terbenam pada sore hari. Silau Matahari mengalahkan semua benda langit malam.
Untuk melakukan pemotretan galaksi Bimasakti, carilah lokasi yang masih bebas dari polusi cahaya, seperti di pegunungan atau pedesaan. Pokoknya jauh dari kota besar agar Anda dapat menghindari “kebocoran cahaya” pada hasil jepretannya. Selain itu, cuaca juga memainkan peran terbesar dalam berhasil atau tidaknya Anda dalam memotret galaksi Bimasakti. Jika berawan atau hujan tentu tidak mungkin untuk melakukan pengamatan apalagi pemotretan galaksi Bimasakti. Lakukan jika langit benar-benar cerah, tak berawan dan minim cahaya dari lingkungan sekitar, maka hasil jepretan yang akan Anda hasilkan akan bagus tentunya. Selamat mencoba.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini